Mojtaba, Putra Khamenei, Digadang Jadi Pemimpin Tertinggi Iran Berikutnya

Andika Hendra Mustaqim
Mojtaba, Putra Khamenei, menjadi kandidat kuat pemimpin tertinggi Iran. (Foto: Ist)

Terbentur Konstitusi dan Tradisi

Masalah terbesar Mojtaba bukan sekadar politik, melainkan legitimasi. Konstitusi Iran mengharuskan Pemimpin Tertinggi memiliki pengalaman politik formal dan kredensial teologis tinggi. Mojtaba dinilai belum memenuhi standar tersebut.

Lebih sensitif lagi, Iran memiliki tradisi kuat menolak suksesi berbasis keluarga. Pada 1989, bahkan putra Ruhollah Khomeini tersingkir karena alasan serupa. Khamenei sendiri pernah menegaskan bahwa pemerintahan turun-temurun “bukanlah Islami”.

Jika Mojtaba tetap dipaksakan, potensi retakan di tubuh elite penguasa bisa melebar. Publik pun berpeluang bereaksi keras terhadap kesan dinasti kekuasaan.

Kini Iran berdiri di persimpangan sejarah. Apakah Majelis Pakar akan memilih kesinambungan lewat darah keluarga, atau justru menghindari risiko dan mencari figur kompromi?

Jawabannya bisa menentukan masa depan Republik Islam — dan stabilitas kawasan Timur Tengah. (*)

 

 

Editor : Syahrir Rasyid

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network