Teori ini menggambarkan bahwa ketika daya beli untuk hal-hal besar (seperti membeli rumah atau liburan ke luar negeri) sudah tidak terjangkau, masyarakat akan mengalihkan uangnya ke instrumen hiburan kecil yang dianggap sebagai kemewahan terjangkau (affordable luxury).
Di Indonesia saat ini, gejalanya sangat terasa. "Orang nggak beli mobil baru, tapi beli kopi Rp80 ribu. Orang nggak liburan ke Jepang, tapi staycation di hotel bintang tiga," lanjut unggahan tersebut. Aktivitas nongkrong, berburu skincare, hingga membeli gadget dinilai sebagai bentuk 'pelarian' psikologis di tengah impitan ekonomi.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
