Percepat Proyek Bioenergi, ASPEBINDO Hubungkan Antara Kampus dengan Industri Serta Pasar Karbon 

Vitrianda Hilba Siregar
Percepatan dan pengembangan bioenergi nasional membutuhkan strategi komprehensif yang melampaui sekadar ketersediaan bahan baku serta teknologi. Foto: Ist

Dzaki Adinda Husna menambahkan bahwa talenta muda perlu diajarkan untuk memvalidasi masalah, memahami calon pengguna, menyusun struktur biaya, menguji model bisnis, dan membangun tim agar inovasi tidak berhenti di tahap ide.

Sementara itu, Ardian Marta Kusuma menekankan bahwa industri membutuhkan SDM multidisiplin yang memahami teknologi, regulasi, perhitungan emisi, hingga keekonomian proyek, sehingga hubungan kampus dan industri harus didasarkan pada persoalan nyata.

Komersialisasi Biogas dan Bio-CNG

Pada sesi mengenai Biogas & Bio-CNG, dibahas potensi besar pengolahan limbah sawit, peternakan, pertanian, dan sampah organik menjadi gas terbarukan. Materi dari K.R. Raghunath menunjukkan pengalaman portofolio global dalam mengolah biogas dan biometana. Ia menyampaikan bahwa keberadaan fasilitas Bio-CNG komersial di Indonesia—seperti proyek di Jambi yang ditargetkan commissioning sebelum Februari 2027—menunjukkan teknologi pemurnian ini sudah siap diterapkan, meski tantangan berikutnya ada pada pasokan bahan baku, kualitas gas, dan kontrak pembelian.

Dari segi infrastruktur, pemetaan yang dipaparkan Fabekyus Kasmansyah memperlihatkan keberadaan SPBG, Mobile Refueling Unit, dan mother station swasta yang belum tersebar merata. Fabekyus menegaskan bahwa industri Bio-CNG membutuhkan ekosistem logistik yang aman, efisien, serta standar keselamatan yang konsisten.

Di sisi lain, Ketua Masyarakat Biometana Indonesia, Yasmine Surachman Umar, menyoroti kendala utama pada kepastian offtaker dan pembiayaan. Meski telah memiliki jalur legal melalui KBLI 35203, proyek biometana memerlukan kontrak penyerapan jangka panjang. Ia mendorong pembentukan Biogas Fund Facility untuk mendukung studi kelayakan hingga mitigasi risiko investasi.

Terkait manfaat lingkungan, Robbi R. Sukardi mengingatkan bahwa potensi pengurangan emisi karbon dapat memperkuat kelayakan proyek, namun tidak boleh menggantikan fundamental bisnis. Nilai karbon harus ditempatkan sebagai penguat kelayakan, bukan satu-satunya dasar keberlangsungan proyek.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network