Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
INDONESIA KEMBALI diuji. Belum selesai kita berbicara tentang satu bencana, bencana lain datang. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di sejumlah wilayah. Gempa bumi mengguncang Flores. Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dan bahkan mengganggu penerbangan.
Sepanjang 2026, negeri ini seolah terus diingatkan bahwa manusia hidup di atas bumi yang tidak pernah benar-benar diam. Salah satu yang paling mengguncang adalah gempa bumi Magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026.
Belum selesai duka akibat gempa Flores, masyarakat kembali menghadapi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sebaran abu bahkan menyebabkan empat bandara yaitu Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto, ditutup sementara demi keselamatan penerbangan.
Di sisi lain, karhutla masih menjadi persoalan serius. Pada awal September, BNPB menyebut karhutla mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah dan penanganannya diperkuat di enam provinsi prioritas: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.
Pertanyaannya adalah: Apakah semua ini hanya rangkaian fenomena alam? Ataukah ada sesuatu yang harus kita renungkan tentang hubungan manusia dengan Allah dan dengan lingkungan?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Bencana bisa menjadi ujian. Bagi korban, ia adalah ujian kesabaran. Bagi relawan, ia menjadi ujian kepedulian. Bagi pemerintah, ia menjadi ujian amanah. Dan bagi kita semua, ia menjadi ujian kesadaran.
Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jangan menghakimi korban. Yang harus kita lakukan adalah menolong sekaligus mengambil pelajaran. Ada peringatan yang tidak boleh diabaikan. Di sinilah manusia harus berani bercermin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
Ayat ini sangat relevan untuk membaca krisis lingkungan. Bukan berarti setiap kebakaran pasti akibat dosa tertentu. Bukan pula berarti setiap banjir merupakan hukuman langsung dari Allah.
Namun manusia harus jujur bahwa perilaku manusia dapat memperbesar risiko bencana. Hutan yang dibuka tanpa kendali mengurangi daya dukung ekosistem. Lahan yang dibakar memperbesar risiko kebakaran.
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : Dok Pribadi)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
