HIKMAH JUMAT : Ujian Itu Bernama Istiqamah

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Ada kekeliruan dalam memahami istiqamah. Sebagian orang mengira istiqamah berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Padahal manusia adalah makhluk yang lemah. (Foto: Ist)

Istiqamah Bukan Berarti Tidak Pernah Jatuh

Ada kekeliruan dalam memahami istiqamah. Sebagian orang mengira istiqamah berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Padahal manusia adalah makhluk yang lemah. Ada saatnya iman naik, ada saatnya turun. Ada saatnya kita kuat beribadah, ada saatnya tubuh dan jiwa terasa berat.

Istiqamah bukan berarti tidak pernah jatuh. Istiqamah berarti selalu berusaha bangkit dan kembali kepada Allah setiap kali jatuh. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Hadis ini sangat singkat, tetapi pesannya sangat dalam. Iman bukan hanya pengakuan di lisan. Iman membutuhkan keteguhan dalam perjalanan hidup. Sebab, menjadi baik ketika suasana mendukung bukanlah perkara sulit.

Yang sulit adalah tetap baik ketika lingkungan mengajak sebaliknya. Tetap jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan. Tetap menjaga salat ketika kesibukan menumpuk. Tetap menjaga lisan ketika orang lain sibuk mencaci. Tetap memegang prinsip ketika kompromi dengan dosa menawarkan keuntungan. Di situlah istiqamah diuji.

Jangan Bergantung pada Semangat

Salah satu kesalahan terbesar dalam beramal adalah terlalu bergantung pada perasaan dan semangat. Hari ini semangat membaca Al-Qur’an, besok malas. Hari ini rajin tahajud, beberapa hari kemudian berhenti. Hari ini menangis ketika mendengar ceramah, tetapi setelah keluar dari masjid kembali pada kebiasaan lama.

Mengapa? Karena kita menjadikan semangat sebagai bahan bakar utama, padahal semangat manusia tidak selalu stabil. Baginda Rasulullah SAW justru mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit.

Dalam sebuah hadits, Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, jangan terlalu sibuk mengejar amal yang besar tetapi hanya bertahan sebentar. Lebih baik membangun kebiasaan kecil yang terus hidup. Membaca Al-Qur’an satu halaman setiap hari lebih baik daripada membaca satu juz tetapi hanya dilakukan sesekali.

Bersedekah sedikit tetapi rutin lebih baik daripada bersedekah besar sekali kemudian lupa. Menjaga salat tepat waktu setiap hari jauh lebih bermakna daripada semangat beribadah hanya ketika hati sedang tersentuh.

Allah tidak hanya melihat seberapa besar semangat kita saat memulai, tetapi seberapa lama kita mampu bertahan dalam kebaikan.


Salah satu kesalahan terbesar dalam beramal adalah terlalu bergantung pada perasaan dan semangat. (Foto: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network