Istiqamah di Zaman yang Serba Berubah
Istiqamah semakin penting di zaman ketika manusia hidup dalam arus perubahan yang sangat cepat. Media sosial menghadirkan begitu banyak godaan. Algoritma terus menawarkan sesuatu yang menarik perhatian.
Hari ini kita melihat nasihat agama, beberapa detik kemudian muncul hiburan, kemewahan, sensasi, bahkan sesuatu yang dapat merusak hati. Kita hidup dalam zaman ketika perhatian mudah berpindah dan komitmen mudah berubah. Karena itu, menjaga hati menjadi perjuangan tersendiri.
Jangan sampai kita menjadi manusia yang setiap hari mendapatkan nasihat, tetapi tidak pernah berubah. Mengoleksi kutipan agama, tetapi tidak mengoleksi amal. Rajin membagikan konten tentang kesabaran, tetapi mudah marah. Sering berbicara tentang keikhlasan, tetapi kecewa ketika tidak dihargai.
Istiqamah membutuhkan disiplin. Tetapkan amal yang realistis dan pertahankan. Jaga salat. Biasakan membaca Al-Qur’an. Perbanyak zikir. Pilih lingkungan yang baik. Kurangi hal-hal yang melemahkan iman. Dan yang paling penting, jangan berhenti meminta pertolongan Allah.
Sebab hati manusia berada dalam genggaman-Nya. Baginda Rasulullah SAW sering berdoa: “Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)
Kalau Rasulullah SAW saja mengajarkan doa agar hati diteguhkan, bagaimana dengan kita yang imannya jauh lebih rapuh?
Jangan Berhenti di Tengah Jalan
Pada akhirnya, perjalanan menuju Allah bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat memulai. Ini adalah perjalanan tentang siapa yang mampu bertahan. Boleh jadi hari ini amal kita masih sedikit. Tidak mengapa. Yang penting jangan berhenti.
Boleh jadi kita pernah jatuh dalam dosa. Jangan putus asa. Bangkitlah. Boleh jadi semangat kita sedang menurun. Jangan menunggu semangat kembali untuk berbuat baik. Berbuat baiklah, dan biarkan kebaikan itu perlahan menghidupkan kembali semangat kita.
Sebab istiqamah bukan tentang menjadi manusia yang sempurna. Istiqamah adalah tentang terus memilih Allah, berkali-kali, setiap hari, dalam keadaan apa pun.
Banyak orang mampu memulai. Tetapi hanya mereka yang bersungguh-sungguh menjaga iman yang mampu bertahan. Maka jangan tanyakan kepada diri kita, “Seberapa hebat kebaikan yang sudah kulakukan?”
Tanyakanlah: “Apakah aku masih berada di jalan yang sama ketika tidak ada seorang pun yang melihat?” Jika jawabannya iya, teruskan. Jika sedang melemah, bangkitlah. Jika pernah tersesat, kembalilah.
Karena perjalanan kepada Allah bukan tentang siapa yang tidak pernah jatuh, melainkan tentang siapa yang tidak pernah berhenti kembali kepada-Nya. Banyak yang memulai, sedikit yang bertahan. Maka jadilah salah satu dari sedikit orang yang tetap istiqamah sampai akhir hayat. (*)
Istiqamah membutuhkan disiplin. Tetapkan amal yang realistis dan pertahankan. Jaga salat. (Foto: Ist)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
