HIKMAH JUMAT : Ujian Itu Bernama Istiqamah

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Ada kekeliruan dalam memahami istiqamah. Sebagian orang mengira istiqamah berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Padahal manusia adalah makhluk yang lemah. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

KITA SERING ingin menjadi orang baik. Masalahnya, kita tidak selalu sanggup bertahan menjadi orang baik. Ada pula masa ketika hati begitu lembut. Mendengar ayat Al-Qur’an, dada terasa sesak dan mata berkaca-kaca.

Kemudian, seusai kajian, kita berjanji kepada diri sendiri: mulai hari ini harus berubah. Salat akan dijaga, Al-Qur’an akan dibaca setiap hari, maksiat akan ditinggalkan, sedekah akan diperbanyak.

Kita pulang dengan keyakinan bahwa hidup akan benar-benar berubah. Tetapi, seiring dengan waktu yang terus berjalan. Semangat yang kemarin membara pun akhirnya mulai redup.

Al-Qur’an yang semula rutin dibaca kembali tergeletak. Salat yang ingin dijaga mulai ditunda. Dosa yang pernah ditinggalkan perlahan mengetuk pintu lagi. Dan yang paling menyakitkan, kita sadar bahwa kita sedang kembali menjadi diri kita yang dulu.

Di situlah muncul konflik batin yang sering tidak kita ceritakan kepada siapa pun: kita ingin dekat dengan Allah, tetapi kita juga masih mencintai kenyamanan duniawi yang menjauhkan kita dari-Nya.

Kita ingin istiqamah, tetapi hati mudah berubah. Kita ingin taat, tetapi godaan tidak pernah berhenti. Kita ingin meninggalkan dosa, tetapi lingkungan, kebiasaan, dan hawa nafsu berkali-kali menarik kita kembali.

Lalu kita bertanya dalam hati: “Mengapa menjadi baik terasa mudah di awal, tetapi begitu berat untuk dipertahankan?” Jawabannya mungkin sederhana: karena memulai adalah keputusan sesaat, sedangkan istiqamah adalah perjuangan setiap hari.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, akan turun kepada mereka para malaikat (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat [41]: 30)


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : Dok Pribadi)
 

Istiqamah Bukan Berarti Tidak Pernah Jatuh

Ada kekeliruan dalam memahami istiqamah. Sebagian orang mengira istiqamah berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Padahal manusia adalah makhluk yang lemah. Ada saatnya iman naik, ada saatnya turun. Ada saatnya kita kuat beribadah, ada saatnya tubuh dan jiwa terasa berat.

Istiqamah bukan berarti tidak pernah jatuh. Istiqamah berarti selalu berusaha bangkit dan kembali kepada Allah setiap kali jatuh. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Hadis ini sangat singkat, tetapi pesannya sangat dalam. Iman bukan hanya pengakuan di lisan. Iman membutuhkan keteguhan dalam perjalanan hidup. Sebab, menjadi baik ketika suasana mendukung bukanlah perkara sulit.

Yang sulit adalah tetap baik ketika lingkungan mengajak sebaliknya. Tetap jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan. Tetap menjaga salat ketika kesibukan menumpuk. Tetap menjaga lisan ketika orang lain sibuk mencaci. Tetap memegang prinsip ketika kompromi dengan dosa menawarkan keuntungan. Di situlah istiqamah diuji.

Jangan Bergantung pada Semangat

Salah satu kesalahan terbesar dalam beramal adalah terlalu bergantung pada perasaan dan semangat. Hari ini semangat membaca Al-Qur’an, besok malas. Hari ini rajin tahajud, beberapa hari kemudian berhenti. Hari ini menangis ketika mendengar ceramah, tetapi setelah keluar dari masjid kembali pada kebiasaan lama.

Mengapa? Karena kita menjadikan semangat sebagai bahan bakar utama, padahal semangat manusia tidak selalu stabil. Baginda Rasulullah SAW justru mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit.

Dalam sebuah hadits, Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, jangan terlalu sibuk mengejar amal yang besar tetapi hanya bertahan sebentar. Lebih baik membangun kebiasaan kecil yang terus hidup. Membaca Al-Qur’an satu halaman setiap hari lebih baik daripada membaca satu juz tetapi hanya dilakukan sesekali.

Bersedekah sedikit tetapi rutin lebih baik daripada bersedekah besar sekali kemudian lupa. Menjaga salat tepat waktu setiap hari jauh lebih bermakna daripada semangat beribadah hanya ketika hati sedang tersentuh.

Allah tidak hanya melihat seberapa besar semangat kita saat memulai, tetapi seberapa lama kita mampu bertahan dalam kebaikan.


Salah satu kesalahan terbesar dalam beramal adalah terlalu bergantung pada perasaan dan semangat. (Foto: Ist)
 

Istiqamah di Zaman yang Serba Berubah

Istiqamah semakin penting di zaman ketika manusia hidup dalam arus perubahan yang sangat cepat. Media sosial menghadirkan begitu banyak godaan. Algoritma terus menawarkan sesuatu yang menarik perhatian.

Hari ini kita melihat nasihat agama, beberapa detik kemudian muncul hiburan, kemewahan, sensasi, bahkan sesuatu yang dapat merusak hati. Kita hidup dalam zaman ketika perhatian mudah berpindah dan komitmen mudah berubah. Karena itu, menjaga hati menjadi perjuangan tersendiri.

Jangan sampai kita menjadi manusia yang setiap hari mendapatkan nasihat, tetapi tidak pernah berubah. Mengoleksi kutipan agama, tetapi tidak mengoleksi amal. Rajin membagikan konten tentang kesabaran, tetapi mudah marah. Sering berbicara tentang keikhlasan, tetapi kecewa ketika tidak dihargai.

Istiqamah membutuhkan disiplin. Tetapkan amal yang realistis dan pertahankan. Jaga salat. Biasakan membaca Al-Qur’an. Perbanyak zikir. Pilih lingkungan yang baik. Kurangi hal-hal yang melemahkan iman. Dan yang paling penting, jangan berhenti meminta pertolongan Allah.

Sebab hati manusia berada dalam genggaman-Nya. Baginda Rasulullah SAW sering berdoa: “Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Kalau Rasulullah SAW saja mengajarkan doa agar hati diteguhkan, bagaimana dengan kita yang imannya jauh lebih rapuh?

Jangan Berhenti di Tengah Jalan

Pada akhirnya, perjalanan menuju Allah bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat memulai. Ini adalah perjalanan tentang siapa yang mampu bertahan. Boleh jadi hari ini amal kita masih sedikit. Tidak mengapa. Yang penting jangan berhenti.

Boleh jadi kita pernah jatuh dalam dosa. Jangan putus asa. Bangkitlah. Boleh jadi semangat kita sedang menurun. Jangan menunggu semangat kembali untuk berbuat baik. Berbuat baiklah, dan biarkan kebaikan itu perlahan menghidupkan kembali semangat kita.

Sebab istiqamah bukan tentang menjadi manusia yang sempurna. Istiqamah adalah tentang terus memilih Allah, berkali-kali, setiap hari, dalam keadaan apa pun.

Banyak orang mampu memulai. Tetapi hanya mereka yang bersungguh-sungguh menjaga iman yang mampu bertahan. Maka jangan tanyakan kepada diri kita, “Seberapa hebat kebaikan yang sudah kulakukan?”

Tanyakanlah: “Apakah aku masih berada di jalan yang sama ketika tidak ada seorang pun yang melihat?” Jika jawabannya iya, teruskan. Jika sedang melemah, bangkitlah. Jika pernah tersesat, kembalilah.

Karena perjalanan kepada Allah bukan tentang siapa yang tidak pernah jatuh, melainkan tentang siapa yang tidak pernah berhenti kembali kepada-Nya. Banyak yang memulai, sedikit yang bertahan. Maka jadilah salah satu dari sedikit orang yang tetap istiqamah sampai akhir hayat. (*)


Istiqamah membutuhkan disiplin. Tetapkan amal yang realistis dan pertahankan. Jaga salat. (Foto: Ist)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network