get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Menghentikan Kelalaian

HIKMAH JUMAT : Allah Tidak Pernah Salah

Jum'at, 07 Agustus 2026 | 05:01 WIB
header img
Keliru besar, kekayaan dianggap lebih mulia daripada kesederhanaan. Popularitas dipandang lebih bernilai daripada ketakwaan. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

DI ERA MEDIA SOSIAL seperti saat ini, manusia semakin mudah merasa tidak puas. Dalam hitungan detik, kita bisa melihat orang lain lebih kaya, lebih cantik, lebih cerdas, lebih sukses, atau lebih terkenal.

Tanpa sadar, lahirlah pertanyaan yang berbahaya: "Mengapa Allah tidak menciptakan aku seperti dia?"

Pertanyaan itu mungkin tidak terucap, tetapi sering hadir dalam bentuk keluhan, iri hati, bahkan protes kepada takdir. Kita membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain, lalu menyimpulkan bahwa Allah tidak adil.

Padahal, persoalannya bukan pada takdir Allah, melainkan pada cara pandang manusia. Islam mengajarkan satu prinsip yang sangat mendasar: Allah tidak pernah salah.

Tidak pernah salah ketika menciptakan manusia. Tidak pernah salah ketika membagi rezeki. Tidak pernah salah ketika menentukan rupa, kecerdasan, keluarga, kesehatan, maupun jalan hidup setiap hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (QS. Al-Qamar [54]: 49).

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah berada dalam ukuran, ketentuan, dan hikmah yang sempurna. Tidak ada yang kebetulan. Tidak ada yang keliru. Semua berada dalam ilmu dan kebijaksanaan Allah Yang Maha Mengetahui.

Perbedaan adalah Sunnatullah

Mengapa ada orang yang hidup kaya sementara yang lain miskin? Mengapa ada yang sehat dan ada yang diuji dengan penyakit? Mengapa ada yang mudah meraih prestasi, sedangkan yang lain harus berjuang berkali-kali lipat?

Al-Qur'an telah menjawabnya: "Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain." (QS. Az-Zukhruf [43]: 32).

Perbedaan bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan mekanisme kehidupan yang Allah tetapkan agar manusia saling membutuhkan, saling melengkapi, dan saling menolong.

Bayangkan jika semua orang menjadi pemimpin, siapa yang akan dipimpin? Jika semua menjadi dokter, siapa yang akan menjadi petani, guru, atau nelayan?


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut