HIKMAH JUMAT : Waktu Berlalu dan Tak Pernah Kembali Lagi
Muhasabah berarti introspeksi diri secara jujur dan mendalam. Khalifah Umar bin Khattab R.A. pernah berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Muhasabah sebaiknya dilakukan setiap saat, namun karena kesibukan kita, muhasabah sering kali terlupakan. Oleh karenanya, menyambut tahun baru 2026 ini menjadi momentum yang baik bagi kita untuk melakukan muhasabah diri.
Dengan muhasabah berarti berani bertanya pada diri sendiri: apakah shalat kita sudah tepat waktu dan khusyuk? Apakah Al-Qur’an masih menjadi bacaan harian atau hanya hiasan rumah? Apakah lisan kita lebih sering berdzikir atau justru melukai sesama?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)
“Hari esok” dalam konteks ayat ini bukan hanya berarti esok hari secara duniawi, tetapi juga hari akhirat. Tahun baru menjadi momentum yang tepat untuk melihat kembali bekal apa yang telah kita siapkan.
Setelah muhasabah, langkah berikutnya adalah taubat. Taubat bukan sekadar ucapan istighfar di lisan, melainkan penyesalan dalam hati, meninggalkan dosa, dan bertekad tidak mengulanginya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Pengampun dan selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya, selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar [39]: 53)
Baginda Rasulullah SAW, meskipun beliau adalah manusia yang dijamin ampunannya, tetap beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari. Ini menunjukkan bahwa taubat bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kesadaran iman.

Editor : Syahrir Rasyid