HIKMAH JUMAT : Ketika Langit Menjadi Jawaban Atas Krisis Zaman
Di tengah dunia yang semakin bising oleh konflik, krisis moral, tekanan ekonomi, dan kegelisahan jiwa, manusia modern sering bertanya: ke mana harus mencari ketenangan dan arah hidup?
Islam sejak lebih dari 14 abad lalu telah memberikan jawabannya melalui peristiwa agung Isra Mi’raj sebuah perjalanan spiritual yang bukan hanya mengangkat Nabi Muhammad SAW ke langit, tetapi juga mengangkat martabat manusia menuju makna hidup yang sejati.
Isra Mi’raj bukan sekadar kisah mukjizat, melainkan peta jalan kehidupan bagi umat Islam sepanjang zaman. Inilah hikmah atau pelajaran dari peristiwa Isra dan Mi’raj yang sejatinya harus kita pahami dengan baik.
Sekali lagi, peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Baginda Rasulullah SAW. Beliau baru saja kehilangan dua sosok penopang dakwah yang sangat luar biasa, yaitu Khadijah R.A. sang istri tercinta, dan Abu Thalib sang paman tercinta.
Pada saat yang bersamaan, dakwah Baginda Rasulullah banyak ditolak, dihina, bahkan disakiti. Secara manusiawi, ini adalah titik terendah kehidupan. Namun justru pada saat itulah Allah mengangkat Nabi-Nya ke langit.
Peristiwa ini memberikan pelajaran besar bahwa ketika bumi terasa sempit, langit Allah selalu terbuka bagi hamba-Nya yang bersabar. Firman-firman Allah yang disebutkan di atas menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah kehendak Allah, sekaligus bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba pilihan-Nya.
Selain itu, hikmah paling monumental dari Isra Mi’raj adalah ditetapkannya shalat lima waktu. Tidak seperti ibadah lain yang diturunkan melalui perantara, shalat diberikan langsung oleh Allah kepada Baginda Rasulullah SAW di Sidratulmuntaha.
Ini menunjukkan bahwa shalat bukan beban, melainkan hadiah. Dalam sebuah hadis yang sangat masyhur Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Shalat adalah tiang agama.” (HR. Tirmidzi)
Di era modern, banyak manusia mengalami kekosongan batin, stres, kecemasan, bahkan depresi, meski hidup serba berkecukupan. Isra Mi’raj mengingatkan bahwa solusi dari krisis jiwa bukanlah sekadar hiburan atau materi, tetapi hubungan yang hidup dengan Allah melalui shalat.

Editor : Syahrir Rasyid