HIKMAH JUMAT : Mi’rajnya Orang Beriman
Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang.
MI’RAJ, yang secara harfiah berarti “perjalanan naik,” adalah salah satu peristiwa yang paling berkesan dalam sejarah Islam. Mi’raj mengacu pada perjalanan Nabi Muhammad SAW ke langit yang terjadi dalam satu malam, di mana beliau menerima perintah shalat lima waktu langsung dari Allah Ta’ala.
Peristiwa ini tercatat dalam Al-Qur'an dan Hadits, serta menjadi pelajaran penting bagi umat Islam. Namun, dalam konteks kehidupan sehari-hari, mi’raj juga bisa diartikan sebagai perjalanan rohani seorang mukmin dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan perjalanan yang penuh makna dan hikmah. Allah berfirman: "Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra [17]: 1).
Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW naik ke Sidratul Muntaha dan bertemu dengan para nabi sebelumnya. Di sana, beliau menerima perintah shalat lima waktu, yang menjadi pilar utama dalam ibadah umat Islam. Shalat ini sendiri dapat dilihat sebagai mi’raj harian bagi setiap mukmin, sebuah cara untuk "naik" dan mendekatkan diri kepada Allah.
Bagi orang beriman, mi’raj bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan rohani yang dilakukan setiap hari melalui ibadah, ketaatan, dan amal shaleh. Mi’raj ini melibatkan hati yang ikhlas, jiwa yang bersih, dan usaha untuk meraih ridha Allah.
Allah berfirman: "Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya." (QS. Fathir [35]: 10). Ayat ini mengingatkan kita bahwa amal saleh adalah kendaraan yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah.

Terdapat langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh orang beriman agar dapat melakukan mi’raj. Langkah-langkah tersebut di antaranya:
Nabi Muhammad SAW bersabda: "Shalat adalah mi’rajnya orang-orang beriman."
(HR. Al-Baihaqi). Ketika seorang mukmin melaksanakan shalat dengan khusyuk, ia sedang berada dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala. Shalat menjadi momen intim antara seorang hamba dengan Allah Ta’ala sebagai Tuhannya.
Taubat yang tulus membuka pintu bagi seorang mukmin untuk mendekatkan diri kepada Allah. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Setiap anak Adam adalah pendosa, dan sebaik-baik pendosa adalah mereka yang bertaubat." (HR. At-Tirmidzi).
Dzikir dan membaca Al-Qur'an adalah cara lain untuk mengangkat jiwa kita kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah-lah iman mereka (karena-Nya), dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." (QS. Al-Anfal [8]: 2).
Mi’raj orang beriman juga berarti menjauhi segala perbuatan yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Baginda Rasulullah SAW mengingatkan: "Seorang pezina tidak akan berzina dalam keadaan ia beriman, seorang pencuri tidak akan mencuri dalam keadaan ia beriman, dan seorang peminum khamr tidak akan meminumnya dalam keadaan ia beriman." (HR. Bukhari dan Muslim).
Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga." (HR. Muslim).

Salah satu contoh mi’raj rohani yang menginspirasi adalah perjalanan hidup Umar bin Khattab RA sebelum dan sesudah memeluk Islam. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai seseorang yang keras dan menentang dakwah Baginda Rasulullah SAW.
Namun, setelah hatinya terbuka oleh ayat Al-Qur'an (QS. Thaha [20]: 1-8), Umar pun menjadi salah satu sahabat yang paling berpengaruh dalam Islam. Umar menunjukkan bahwa mi’raj rohani dapat terjadi ketika hati seseorang terbuka terhadap kebenaran. Ia menjadi pemimpin yang adil dan selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dalam setiap keputusannya.
Bagi orang beriman, mi’raj rohani yang dilakukannya setiap hari memiliki hikmah yang luar biasa, di antaranya:
Mi’raj adalah momen refleksi yang menguatkan keyakinan seorang mukmin kepada Allah Ta’ala dan janji-janji-Nya.
Seorang mukmin yang menjalani mi’raj ruhani akan senantiasa mengutamakan ketaatan kepada Allah di atas segalanya.
Allah Ta’ala berfirman: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qasas [28]: 77). Ayat ini mengajarkan bahwa mi’raj orang beriman adalah perjalanan menuju akhirat yang diraih dengan amal shaleh di dunia.
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat kita pahami bahwa mi’raj bagi orang beriman adalah perjalanan rohani yang mengarahkan jiwa untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Setiap langkah dalam ketaatan, ibadah, dan amal saleh adalah bagian dari perjalanan ini.
Sebagaimana Nabi Muhammad SAW diberi kehormatan untuk naik ke langit dalam peristiwa Isra dan Mi’raj, maka seorang mukmin juga diberi kesempatan untuk "naik" dalam kehidupannya melalui ibadah yang tulus dan ketaatan yang penuh kepada Allah.
Kita berdo’a dan berharap kepada Allah Ta’ala, agar kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa menjalani mi’raj rohani dan mendapatkan ridha Allah Ta’ala baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Aamiin. (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid