HIKMAH JUMAT : Hidup Mulia Bersama Al-Qur’an
Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang.
BULAN RAMADHAN adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an, kitab suci yang menjadi petunjuk hidup manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah [2] ayat 185 yang artinya:
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
Ramadhan dimuliakan karena Al-Qur’an. Maka, siapa yang ingin hidupnya mulia, hendaknya ia menghidupkan Ramadhan dengan Al-Qur’an: membacanya, memahami maknanya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Namun sayang, alih-alih mendapatkan kemuliaan hidup bersama Al-Qur’an, justru sejak awal banyak umat Nabi Muhammad SAW yang memilih hidup dengan mengabaikan Al-Qur’an.
Oleh karenanya, Baginda Rasulullah SAW menyampaikan keluhannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana terdapat dalam Surah Al-Furqan [25] ayat 30: “Dan Rasul berkata: ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.’”
Mengabaikan Al-Qur’an bukan hanya berarti tidak membacanya, tetapi juga tidak mentadabburi, tidak mengamalkan, bahkan tidak menjadikannya sebagai hukum dan pedoman hidup. Ketahuilah, Allah mengingatkan kita dalam Surah Taha [20] ayat 124:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh ia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Para ulama menafsirkan “peringatan-Ku” pada ayat di atas sebagai Al-Qur’an. Kehidupan sempit bukan selalu berarti miskin harta, tetapi hati yang gelisah, jiwa yang kosong, dan hidup tanpa arah.
Ketahuilah bahwa Al-Qur’an bisa menjadi penolong di akhirat jika kita dekat dengannya. Namun, bisa juga menjadi saksi yang memberatkan jika kita mengabaikannya. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Al-Qur’an adalah hujjah (pembela) bagimu atau hujjah (yang memberatkan) atasmu.” (HR. Muslim)
Betapa banyak kaum Muslimin yang sibuk dengan dunia, tetapi jarang menyentuh mushaf. Ramadhan datang setiap tahun, namun interaksi dengan Al-Qur’an hanya sebatas seremoni. Ini adalah tanda bahaya bagi hati.

Editor : Syahrir Rasyid