HIKMAH JUMAT : Menghentikan Kelalaian
Dalam konteks ini, sabda Baginda Rasulullah SAW menjadi sangat relevan: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Masalahnya, standar “tidak bermanfaat” sering kali kita turunkan. Kita mentoleransi pemborosan waktu selama itu terasa menyenangkan. Yuk, kita jadikan bulan haram sebagai momen detoks digital spiritual, mengurangi konsumsi yang tidak perlu dan mengembalikan fokus pada hal yang bernilai.
Dalam setahun, hanya ada empat bulan haram. Ini adalah “zona khusus” yang Allah tetapkan. Mengabaikannya sama dengan mengabaikan kesempatan yang sangat langka.
Imam Hasan Al-Bashri pernah mengingatkan: “Engkau adalah kumpulan hari. Ketika satu hari berlalu, maka berlalu pula sebagian dirimu.”
Kalimat ini terasa lebih tajam ketika ditempatkan dalam konteks bulan haram. Setiap hari yang terlewat tanpa peningkatan adalah kerugian berlapis.
Sebagai penutup, mari kita sadari bahwa sejatinya kita tidak kekurangan waktu. Yang ada adalah kita kekurangan kesadaran. Bulan-bulan haram datang setiap tahun, tetapi tidak semua orang benar-benar “bertemu” dengannya.
Sebagian hanya melewatinya sebagai rutinitas kalender, tanpa perubahan berarti. Padahal Allah telah memperingatkan dengan sangat jelas: “...maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu...” (QS. At-Taubah [9]: 36)
Mengelola waktu di bulan haram bukan sekadar soal disiplin, tetapi soal iman. Ini adalah ujian: apakah kita benar-benar menghargai apa yang Allah muliakan? Atau sebaliknya kita mengabaikan apa yang Allah muliakan?
Hari Jum’at terakhir di bulan Syawal ini, menjadi saat yang paling tepat bagi kita untuk berhenti membiarkan waktu berlalu tanpa makna. Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Karena sore nanti, saat mata hari tenggelam maka bulan mulia Dzulqaidah pun datang.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid