get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Allah Tidak Pernah Salah

HIKMAH JUMAT : Mengakui Kesalahan - Luka yang Disembuhkan oleh Kejujuran

Jum'at, 22 Mei 2026 | 05:49 WIB
header img
Dalam pandangan Allah, kemuliaan bukan milik orang yang selalu benar, tetapi milik orang yang mau kembali ke jalan benar ketika salah. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

ADA ORANG yang menangis bukan karena dimarahi, tetapi karena terlalu lama memendam rasa bersalah. Ada hati yang terasa sempit bukan karena miskin harta, tetapi karena enggan berkata, “Aku salah.”

Dan ada hubungan yang hancur bukan karena kesalahan besar, melainkan karena tidak ada yang mau mengakuinya. Semuanya bertahan dengan egonya masing-masing. Begitulah manusia.

Kita sering ingin terlihat kuat, benar, dan sempurna di hadapan orang lain. Kita takut dianggap lemah jika meminta maaf. Kita gengsi mengakui kesalahan. Padahal semakin lama kesalahan ditutup, semakin berat pula hati memikulnya.

Ironisnya, di zaman seperti sekarang ini, manusia lebih mudah mengedit foto daripada memperbaiki diri. Lebih mudah membuat klarifikasi daripada mengakui kesalahan. Lebih mudah mencari kambing hitam daripada berkata jujur.

Padahal dalam pandangan Allah, kemuliaan bukan milik orang yang selalu benar, tetapi milik orang yang mau kembali ketika salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan barang siapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa [4]: 110)

Ayat ini seakan memeluk setiap manusia yang pernah jatuh. Allah tahu kita tidak sempurna. Allah tahu kita punya dosa, punya khilaf, punya luka dan kelemahan. Tetapi Allah juga ingin melihat satu hal: apakah kita mau kembali kepada-Nya atau tidak.

Dosa yang Tidak Diakui Akan Menjadi Racun Jiwa

Tidak semua luka terlihat. Ada luka yang tersembunyi di dalam hati. Luka karena pernah menyakiti orang tua. Luka karena mengkhianati kepercayaan. Luka karena ucapan yang kasar. Luka karena dosa yang terus diulang tetapi tidak pernah disesali.

Semakin lama kesalahan tidak diakui, hati akan semakin keras.

Awalnya berdusta terasa berat, lama-lama menjadi biasa. Awalnya menyakiti terasa bersalah, lama-lama menjadi kebiasaan. Hingga akhirnya hati kehilangan rasa takut kepada Allah.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, maka akan timbul satu titik hitam di hatinya.” (HR. Tirmidzi)

Titik hitam itu akan terus bertambah selama dosa tidak diakui dan tidak ditaubati. Karena itu, mengakui kesalahan sebenarnya bukan untuk merendahkan diri di hadapan manusia, tetapi untuk menyelamatkan hati kita sendiri.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 

Tangisan Nabi Adam dan Kesombongan Iblis

Ada pelajaran besar dari kisah Nabi Adam AS dan Iblis. Keduanya sama-sama pernah melakukan kesalahan. Namun akhir keduanya berbeda.

Iblis menolak mengakui kesalahannya. Ia merasa dirinya lebih baik. Kesombongan membuatnya terusir dari rahmat Allah. Sedangkan Nabi Adam AS menangis dan memohon ampun.

Allah mengabadikan doa beliau: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf [7]: 23)

Perhatikan kalimatnya: kami telah menzalimi diri kami sendiri.

Tidak ada pembelaan. Tidak menyalahkan keadaan. Tidak menyalahkan pihak lain. Inilah kejujuran seorang hamba. Dan justru karena pengakuan itulah Allah menerima taubat Nabi Adam.

Kisah Inspiratif: Anak Muda dan Ibunya

Dikisahkan ada seorang pemuda yang hidup jauh dari orang tuanya. Ia sukses dalam pekerjaan, memiliki banyak teman, dan terlihat bahagia. Namun ada satu hal yang terus menghantuinya: ia pernah membentak ibunya dengan sangat kasar sebelum merantau.

Saat itu ia merasa benar. Ia merasa ibunya terlalu banyak mengatur hidupnya. Maka dengan emosi ia pergi meninggalkan rumah tanpa meminta maaf.

Bertahun-tahun berlalu.

Suatu malam, ia mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras. Dengan tergesa ia pulang. Ketika memasuki kamar, ia melihat ibunya terbaring lemah.

Tangannya gemetar.

Hatinya sesak.

Semua kesombongan yang selama ini dipertahankan runtuh dalam sekejap.

Ia menggenggam tangan ibunya sambil menangis:

“Bu… maafkan saya…”

Ibunya tersenyum lemah sambil berkata:

“Ibu sudah memaafkan sejak dulu…”

Pemuda itu menangis sejadi-jadinya. Bukan karena dimarahi, tetapi karena menyadari bahwa selama ini egonya telah mencuri begitu banyak waktu untuk meminta maaf.

Betapa banyak manusia hari ini yang terlambat menyadari bahwa mengakui kesalahan jauh lebih indah daripada mempertahankan gengsi.

Sebab tidak semua orang tua masih hidup ketika kita ingin meminta maaf.
Tidak semua sahabat masih ada ketika kita ingin memperbaiki hubungan.
Tidak semua kesempatan akan kembali.


Tidak semua orang tua masih hidup ketika kita ingin meminta maaf. Tidak semua sahabat masih ada ketika kita ingin memperbaiki hubungan. (Foto: Ist)
 

Allah Menyukai Hamba yang Jujur

Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini memberi harapan besar bagi siapa saja yang merasa penuh dosa.

Mungkin hari ini kita pernah menyakiti pasangan. Pernah memfitnah orang lain. Pernah berdusta. Pernah meninggalkan shalat. Pernah melukai hati orang tua.

Tetapi jangan biarkan dosa membuat kita menjauh dari Allah. Justru bawalah semua penyesalan itu ke hadapan-Nya. Menangislah dalam sujud. Akui semuanya.
Karena Allah tidak menunggu manusia sempurna untuk dicintai-Nya. Allah hanya ingin melihat hamba yang jujur dan mau kembali.

Jangan Tunggu Terlambat

Kadang manusia baru ingin meminta maaf ketika semuanya sudah terlambat. Ketika orang tua telah tiada. Ketika pasangan memilih pergi. Ketika persahabatan hancur.
Ketika hati sudah terlalu terluka.

Padahal satu kalimat sederhana bisa menyelamatkan banyak hal: “Maaf, aku salah.”

Kalimat itu mungkin berat bagi ego, tetapi ringan di sisi Allah. Orang yang berani mengakui kesalahan sebenarnya adalah orang yang kuat. Sebab melawan gengsi jauh lebih sulit daripada melawan musuh.

Hari ini, mungkin ada nama yang muncul di pikiran kita. Seseorang yang pernah kita sakiti. Seseorang yang menunggu permintaan maaf kita. Atau mungkin Allah sedang menunggu kita kembali dalam taubat yang sungguh-sungguh.

Jangan tunda. Karena hidup terlalu singkat untuk dihabiskan mempertahankan kesombongan. Dan sungguh, tidak ada air mata yang lebih indah selain air mata seorang hamba yang akhirnya berkata kepada Allah: “Ya Allah… aku salah. Ampunilah aku.”

Semoga Allah melembutkan hati kita, memudahkan lisan kita untuk meminta maaf, dan menjadikan kita hamba yang rendah hati serta gemar bertaubat. Aamiin. (*)


Jangan abaikan, satu kalimat sederhana bisa menyelamatkan banyak hal: “Maaf, aku salah.” (Foto: Ist)
 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut