get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Allah Tidak Pernah Salah

HIKMAH JUMAT : Krisis Akhlak, Cikal Bakal Kehancuran Bangsa

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 05:02 WIB
header img
Ketika kejujuran mati, kepercayaan ikut mati. Ketika keadilan mati, hukum kehilangan wibawa. Ketika amanah mati, jabatan berubah menjadi alat kepentingan. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang 

ADA YANG SAKIT dalam tubuh bangsa ini. Gejalanya terlihat di mana-mana: korupsi yang tak kunjung berhenti, suap yang menyusup ke berbagai lini pelayanan, penyalahgunaan jabatan, kekerasan, ketidakjujuran, hingga semakin tipisnya kepedulian terhadap sesama.

Kita mungkin berbeda dalam membaca penyebabnya. Ada yang menyebut lemahnya penegakan hukum. Ada yang menunjuk buruknya sistem. Ada pula yang menyalahkan politik, ekonomi, pendidikan, atau ketimpangan sosial.

Semua itu mungkin benar. Tetapi ada satu persoalan yang sering luput dari perhatian yaitu krisis akhlak. Bangsa yang kehilangan akhlak sesungguhnya sedang menanam benih kehancurannya sendiri.

Sebab ketika kejujuran dianggap sebagai kebodohan, keserakahan disebut keberhasilan, jabatan dipandang sebagai kesempatan memperkaya diri, suap dianggap sesuatu yang biasa, dan kekuasaan digunakan untuk kepentingan kelompok, sesungguhnya yang sedang hancur bukan hanya moral individu. Yang sedang hancur adalah fondasi bangsa.

Krisis akhlak dapat dilihat dari hilangnya rasa malu. Orang tidak lagi malu berbohong. Tidak malu mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tidak malu menyalahgunakan jabatan. Tidak malu memperkaya diri di tengah kesulitan rakyat. Bahkan ada yang tidak malu mempertontonkan gaya hidup mewah ketika sumber kekayaannya dipertanyakan masyarakat.

Lebih berbahaya lagi ketika masyarakat mulai terbiasa. Korupsi diberitakan, lalu dilupakan. Suap terungkap, lalu dianggap biasa. Pejabat tersandung kasus, tetapi setelah beberapa waktu masih bisa tampil sebagai tokoh terhormat.

Ketika sesuatu yang salah terus-menerus dilakukan dan masyarakat berhenti merasa terganggu, kejahatan sedang mengalami proses normalisasi. Di sinilah sebuah bangsa harus berhati-hati.

Sebab kehancuran bangsa tidak selalu dimulai dengan perang atau bencana besar. Kadang ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: ketika manusia tidak lagi merasa bersalah setelah berbuat salah.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 

Jabatan Tanpa Akhlak adalah Ancaman

Kekuasaan sesungguhnya bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kekuasaan berada di tangan manusia yang kehilangan akhlak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa [4]: 58)

Ayat ini berbicara langsung tentang dua fondasi kepemimpinan: amanah dan keadilan. Jabatan bukan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, bukan pula tiket untuk diperlakukan istimewa. Jabatan juga bukan alat untuk membangun dinasti kepentingan.

Jabatan adalah amanah. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Persoalan terbesar kita mungkin bukan kekurangan orang pintar. Kita memiliki banyak orang cerdas. Kita memiliki ahli ekonomi, ahli hukum, ilmuwan, akademisi, birokrat, profesional, pengusaha, dan pemimpin dengan kemampuan luar biasa.

Tetapi bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Kita membutuhkan manusia yang berakhlak. Sebab kecerdasan tanpa akhlak dapat digunakan untuk menipu. Kekuasaan tanpa akhlak dapat digunakan untuk menindas.

Ilmu tanpa akhlak dapat digunakan untuk membenarkan kesalahan. Teknologi tanpa akhlak dapat digunakan untuk menyebarkan fitnah. Kekayaan tanpa akhlak dapat melahirkan keserakahan. Bahkan agama tanpa akhlak dapat berubah menjadi sekadar simbol dan ritual.

Itulah sebabnya Baginda Rasulullah SAW menempatkan akhlak pada posisi yang sangat penting. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW: Model Peradaban Berbasis Akhlak

Rabiul Awwal adalah bulan akhlak. Bulan dimana Baginda Rasulullah SAW dilahirkan dengan membawa dengan misi utama menyempurnakan akhlak. Jadi, jika kita ingin mencari solusi atas krisis akhlak, maka Islam tidak membiarkan kita kehilangan arah.

Allah telah menghadirkan Baginda Rasulullah SAW sebagai teladan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Baginda Rasulullah bukan hanya seorang nabi yang mengajarkan ibadah. Beliau adalah model manusia berakhlak yang membangun masyarakat dan peradaban. Beliau jujur ketika berdagang, amanah ketika dipercaya, adil ketika memimpin, rendah hati ketika memiliki kekuasaan.


Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang kejujuran, tetapi jujur ketika tidak ada yang mengawasi. (Foto: Ist)
 

Beliau memaafkan ketika memiliki kesempatan untuk membalas. Beliau menyayangi orang miskin dan lemah, menghormati manusia tanpa melihat status sosial, dan yang paling penting, apa yang beliau katakan selaras dengan apa yang beliau lakukan.

Inilah keteladanan yang hari ini semakin mahal. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang kejujuran, tetapi jujur ketika tidak ada yang mengawasi.

Kita membutuhkan akademisi yang tidak hanya mengajarkan integritas, tetapi menjaganya ketika berhadapan dengan kepentingan. Kita membutuhkan pengusaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memikirkan keberkahan. Kita membutuhkan masyarakat yang tidak hanya menuntut hak, tetapi juga menjalankan kewajiban.

Karena itu, bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar pergantian pejabat atau perubahan kebijakan. Kita membutuhkan perbaikan akhlak secara serius dan sistematis. Pemimpin harus menjadi teladan. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Masyarakat harus berhenti memberikan penghormatan kepada orang hanya karena jabatan dan kekayaannya.

Pada akhirnya, bangsa ini tidak akan diselamatkan hanya oleh orang-orang pintar. Tidak pula hanya oleh teknologi canggih, pertumbuhan ekonomi, gedung-gedung megah, atau banyaknya gelar akademik.

Bangsa ini membutuhkan manusia yang jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbohong, amanah ketika memiliki kesempatan untuk mengkhianati, adil ketika memiliki kesempatan untuk menzalimi, dan rendah hati ketika memiliki kesempatan untuk menyombongkan diri.

Itulah akhlak, dan itulah yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Karena itu, jangan anggap krisis akhlak sebagai persoalan kecil. Ia bisa menjadi cikal bakal kehancuran bangsa.

Sebab ketika kejujuran mati, kepercayaan ikut mati. Ketika keadilan mati, hukum kehilangan wibawa. Ketika amanah mati, jabatan berubah menjadi alat kepentingan. Ketika rasa malu mati, dosa menjadi kebiasaan.

Dan ketika akhlak mati, sebuah bangsa mungkin masih tampak berdiri, tetapi sesungguhnya fondasinya sedang runtuh. Maka barangkali inilah saatnya kita tidak hanya bertanya, “Apa yang salah dengan bangsa ini?”

Tetapi bertanya lebih dalam: “Akhlak apa yang telah hilang dari diri kita?”

Sebab jika bangsa ini ingin sembuh dari penyakitnya, obat pertama yang harus diberikan bukan hanya kepada sistem, tetapi kepada manusia yang menjalankan sistem itu. Jika manusia ingin diperbaiki, akhlak harus kembali menjadi jantungnya,  karena kebangkitan akhlak bisa menjadi awal kebangkitan bangsa. (*)


Masyarakat sudah mulai terbiasa. Korupsi diberitakan lalu dilupakan. Suap terungkap lalu dianggap biasa. (Foto: Ist)
 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut