HIKMAH JUMAT : Begitulah Dunia
Jabatan yang membuat seseorang dihormati manusia bisa menjadi sumber penyesalan apabila amanahnya disia-siakan. Sebaliknya, jabatan yang digunakan untuk melayani, menegakkan keadilan dan memberikan kemaslahatan dapat menjadi jalan menuju pahala.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata siapa yang duduk di kursi kekuasaan, melainkan apa yang dilakukan ketika seseorang duduk di sana.
Pergantian jabatan mengajarkan satu hukum kehidupan: tidak ada kursi dunia yang benar-benar milik kita. Hari ini seseorang dipanggil “Menteri”. Besok tidak lagi. Hari ini seseorang memiliki kewenangan. Besok kewenangan itu berpindah.
Hari ini seseorang masuk ke ruangan dengan pengawalan. Kelak ia akan masuk ke liang lahat tanpa membawa satu pun pengawal. Itulah perbedaan dunia dan akhirat.
Di dunia, seseorang bisa membawa jabatan ke dalam kartu nama. Di akhirat, tidak ada kartu nama. Di dunia, seseorang bisa membawa gelar. Di akhirat, gelar tidak menyelamatkan.
Di dunia, seseorang bisa memiliki banyak orang yang menghormatinya. Di akhirat, yang berbicara adalah amalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran [3]: 185)
Kemudian Allah melanjutkan: “Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Ayat ini bukan berarti dunia harus ditinggalkan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjauhi kehidupan dunia. Justru dunia adalah ladang tempat manusia menanam amal.
Tetapi masalahnya muncul ketika ladang dianggap sebagai tujuan akhir. Jabatan menjadi tujuan. Kekayaan menjadi tujuan. Kekuasaan menjadi tujuan. Popularitas menjadi tujuan. Padahal semuanya hanyalah alat.
Oleh karenanya, pergantian pejabat seharusnya tidak hanya menjadi berita politik. Ia dapat menjadi cermin spiritual bagi kita semua. Sebab sesungguhnya setiap manusia memiliki “jabatan” sebagai seorang pemimpin.
Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menghancurkan anggapan bahwa pertanggungjawaban hanya milik pejabat negara. Tidak. Kita semua sedang memegang jabatan.

Editor: Syahrir Rasyid