Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : HIKMAH JUMAT : Sabar Saja Tidak Cukup
Advertisement . Scroll to see content

HIKMAH JUMAT : Ikhlas Tanpa Tapi

Jum'at, 25 September 2026 | 05:02 WIB
  • author Tim iNews Serpong
HIKMAH JUMAT : Ikhlas Tanpa Tapi
Persoalan ikhlas bukan perkara kecil. Ikhlas adalah pertarungan sunyi yang mungkin tidak diketahui siapa pun. (Foto: Ist)

Penulis: Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

“Saya sudah ikhlas.”

Kalimat itu mudah sekali diucapkan. Tetapi sering kali, setelah kalimat itu keluar dari mulut, ada suara lain yang diam-diam berbisik di dalam hati:

“Tapi mengapa dia tidak berterima kasih?”

“Tapi mengapa setelah semua yang saya lakukan, justru saya yang disalahkan?”

“Tapi mengapa orang lain yang dipuji, sementara pengorbanan saya dilupakan?”

Di situlah perang yang sesungguhnya terjadi. Bukan perang melawan orang lain, melainkan perang melawan diri sendiri.

Mulut ingin mengatakan, “Aku ikhlas.”

Tetapi hati masih menghitung.

Mulut berkata, “Aku tidak mengharapkan apa-apa.”

Tetapi hati diam-diam menunggu penghargaan.

Kita tersenyum di hadapan orang yang kita bantu, tetapi setelah pulang kita mengeluh karena merasa tidak dihargai. Kita mengatakan sudah memaafkan, tetapi nama orang itu masih kita bawa dalam setiap percakapan.

Kita mengaku bersedekah karena Allah, tetapi diam-diam kecewa ketika tidak ada seorang pun yang tahu. Lalu pertanyaannya menjadi semakin tajam: Apakah kita benar-benar ikhlas, atau sebenarnya hanya sedang menunggu balasan yang belum datang?

Bisa jadi pertanyaan ini tidak nyaman. Bahkan mungkin menyakitkan. Sebab kita lebih mudah melihat ketidakikhlasan orang lain daripada memeriksa penyakit hati sendiri.

Kita mudah menuduh seseorang riya ketika memamerkan amal. Tetapi bagaimana dengan diri kita yang kecewa ketika kebaikan tidak dipuji?

Kita mudah mengatakan seseorang terlalu mengejar pengakuan. Tetapi bagaimana dengan hati kita yang terasa kosong ketika tidak ada yang mengucapkan terima kasih?


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 

Barangkali inilah salah satu ujian keimanan yang paling halus: ketika amal kita tampak baik di hadapan manusia, tetapi niat kita masih harus berjuang di hadapan Allah.

Sementara itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya...” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Ayat ini seperti cermin yang diarahkan tepat ke wajah kita. Allah tidak hanya melihat apa yang kita kerjakan. Ada perkara yang jauh lebih dalam: kepada siapa amal itu ditujukan.

Sebab dua orang bisa melakukan kebaikan yang sama, tetapi membawa niat yang berbeda. Yang satu memberi karena Allah. Yang lain memberi karena ingin dikenang.

Yang satu membantu karena ingin meringankan beban saudaranya. Yang lain membantu karena ingin dianggap paling berjasa.

Dari luar, keduanya mungkin tampak sama. Tetapi Allah mengetahui apa yang bersembunyi di balik dada. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, persoalan ikhlas bukan perkara kecil. Ia adalah pertarungan sunyi yang mungkin tidak diketahui siapa pun. Tidak ada yang tahu ketika kita sedang melawan keinginan untuk dipuji.

Tidak ada yang tahu ketika kita menahan diri agar tidak mengungkit pemberian. Tidak ada yang tahu ketika kita memilih diam, padahal hati ingin berkata, “Kalau bukan karena saya, kamu tidak akan sampai di titik ini.”

Memang tidak ada yang tahu. Tetapi Allah tahu. Dan mungkin justru di situlah letak kemuliaan ikhlas: ketika manusia tidak melihat perjuangan hati kita, tetapi Allah melihatnya dengan sempurna.

Maka jangan buru-buru bangga ketika kita mampu melakukan banyak kebaikan. Tanyakan sesuatu yang lebih sulit: Bisakah saya tetap berbuat baik ketika tidak ada yang melihat?

Bisakah saya tetap memberi ketika tidak ada ucapan terima kasih?

Bisakah saya tetap memaafkan ketika orang yang saya maafkan bahkan tidak tahu bahwa saya sedang berjuang untuk memaafkannya?

Bisakah saya tetap ikhlas ketika kebaikan saya dibalas dengan keburukan?

Di situlah kata “ikhlas” berhenti menjadi slogan dan mulai menjadi perjuangan. Sebab ikhlas bukan sekadar berkata, “Saya tidak apa-apa.” Ikhlas adalah ketika hati benar-benar belajar berkata: “Tidak apa-apa jika manusia tidak tahu. Allah tahu.”


Ikhlas berarti tidak mengharapkan pujian, sanjungan, pencitraan, atau sebutan-sebutan tertentu sebagai imbalan duniawi. (Foto: Ist)
 

Dan kalimat sederhana itulah yang akan membawa kita pada persoalan yang lebih besar: mengapa kita begitu membutuhkan pengakuan manusia, padahal yang kita cari seharusnya adalah ridha Allah?

Berat?

Ya, begitulah.

Namun, tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini.

Ketika Allah memerintahkan sesuatu termasuk perintah ikhlas dalam setiap beramal shalih, maka sejatinya kita pasti bisa melakukannya. Semakin sulit dan semakin besar tantangannya, maka yakinlah bahwa semakin besar pula pahala yang telah Allah siapkan untuk kita.

Dari paparan di atas, yuk kita pahami makna ikhlas yang sesungguhnya.

Secara bahasa ikhlas berarti murni, jernih, dan bersih dari campuran. Secara syar’i, ikhlas berarti membersihkan niat dalam setiap ibadah dan amal shalih semata-mata untuk mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ikhlas berarti tidak mengharapkan pujian, sanjungan, pencitraan, atau sebutan-sebutan tertentu sebagai imbalan duniawi. Ikhlas merupakan ruh dari amal shalih kita, karena tanpa ikhlas maka amal ibadah kita tidak ada nilainya di hadapan Allah.

Bisa jadi dalam urusan ikhlas ini kita memang masih amatir, namun kita tidak boleh berhenti untuk terus berusaha dan berusaha terus menjadi pro, hingga hati kita benar-benar mampu ikhlas, hanya berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka, bersikaplah seperti surat Al-Ikhlas, walaupun namanya Al-Ikhlas tetapi tidak ada satu pun kata ikhlas disebutkan dalam ayat-ayatnya. Itulah ikhlas, ikhlas tanpa “tapi”. Dan, satu hal lagi yang juga harus diingat, bahwa ikhlas itu bukan sesaat, tetapi sepanjang hayat. (*)


Memberi demi publikasi diri. Lebih mudah melihat ketidakikhlasan orang lain daripada memeriksa keikhlasan diri sendiri. (Foto: Ist)

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor: Syahrir Rasyid

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut