Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : HIKMAH JUMAT : Sabar Saja Tidak Cukup
Advertisement . Scroll to see content

HIKMAH JUMAT : Rajin Ibadah Tetapi Lalai Menjadi Hamba Allah

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 05:02 WIB
  • author Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
HIKMAH JUMAT : Rajin Ibadah Tetapi Lalai Menjadi Hamba Allah
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah media sosial membuat semakin dekat kepada Allah, atau justru kita lebih sibuk membangun citra sebagai orang yang dekat kepada-Nya. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

KETIKA SAJADAH semakin sering dibentangkan, tetapi kejujuran semakin sulit dipertahankan; ketika ayat-ayat suci rajin dibaca, tetapi akhlak justru kian kehilangan makna. Ada sesuatu yang patut kita renungkan dalam-dalam.

Kita mungkin tidak pernah meninggalkan salat, rajin membaca Al-Qur'an, berpuasa setiap Ramadan, bahkan berkali-kali menunaikan umrah. Namun, di saat yang sama, kita masih mudah menyakiti hati orang lain, mengabaikan hak sesama, berdusta demi kepentingan pribadi, atau menggunakan jabatan untuk keuntungan sendiri.

Kita begitu takut melewatkan salat, tetapi mengapa tidak cukup takut ketika mengambil hak orang lain? Kita begitu khusyuk berdoa meminta rezeki yang berkah, tetapi mengapa masih ada yang tega memperoleh penghasilan dengan cara yang tidak halal?

Kita begitu bersemangat membicarakan surga, tetapi mengapa perilaku kita terkadang justru menjauh dari nilai-nilai yang mengantarkan ke sana? Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk memperbanyak ritual, tetapi lupa memperbaiki kualitas diri sebagai hamba Allah.

Pertanyaan ini memang tidak nyaman. Namun, bukankah nasihat yang paling kita butuhkan terkadang justru nasihat yang membuat hati terusik?

Ibadah Bukan Sekadar Menggugurkan Kewajiban

Islam tidak pernah mengajarkan bahwa ibadah cukup berhenti pada gerakan tubuh, bacaan lisan, atau rutinitas yang berulang. Ibadah seharusnya membentuk kesadaran, menghidupkan hati, dan memperbaiki perilaku manusia.

Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-'Ankabut [29]: 45)

Artinya, salat bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan agar kita merasa telah menggugurkan tugas kepada Allah. Salat seharusnya menjadi kekuatan moral yang menjaga kita ketika berhadapan dengan godaan dunia.

Ketika seseorang berdiri menghadap Allah, ia mengakui kebesaran-Nya. Ketika bersujud, ia merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta. Maka, bagaimana mungkin seseorang yang berkali-kali bersujud masih merasa pantas menyombongkan diri, merendahkan orang lain, atau menzalimi sesamanya?

Tentu, kita tidak boleh gegabah menghakimi kualitas ibadah seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak. Hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia. Namun, kita juga tidak boleh menggunakan alasan tersebut untuk menghindari evaluasi diri.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
 

Jika salat belum membuat kita lebih jujur, lebih sabar, dan lebih mampu menahan diri, mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam cara kita menghayati salat. Jangan hanya bertanya berapa kali kita telah bersujud. Bertanyalah juga, sudah sejauh mana sujud itu meruntuhkan kesombongan kita?

Ketika Kesalehan Hanya Menjadi Penampilan

Salah satu persoalan besar dalam kehidupan beragama adalah ketika kesalehan berubah menjadi penampilan, bukan karakter. Kita ingin dikenal sebagai orang saleh. Kita ingin dipandang religius.

Kita senang ketika orang lain memuji kedermawanan, kesantunan, dan ketaatan kita. Namun, apakah kita tetap melakukan kebaikan ketika tidak ada seorang pun yang melihat?

Apakah kita tetap jujur ketika kebohongan bisa mendatangkan keuntungan? Apakah kita tetap amanah ketika pengkhianatan sulit diketahui? Apakah kita tetap membantu orang lain ketika tidak ada kamera yang merekam dan tidak ada pujian yang menanti?

Di sinilah keikhlasan dan integritas diuji. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: “Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma'un [107]: 4–6)

Ayat ini merupakan peringatan keras bahwa aktivitas salat saja tidak otomatis membuktikan kesempurnaan kesalehan seseorang. Salat yang disertai kelalaian dan riya menjadi persoalan serius di hadapan Allah.

Riya muncul ketika ibadah dilakukan demi mendapatkan pengakuan manusia. Akibatnya, seseorang bisa tampak saleh di hadapan publik, tetapi kehilangan kesungguhan ketika berhadapan dengan dirinya sendiri.

Fenomena ini relevan dengan kehidupan digital saat ini. Kebaikan mudah dipublikasikan, kutipan agama mudah dibagikan, dan aktivitas ibadah dapat menjadi konten yang menarik perhatian. Semua itu tidak otomatis salah. Menyebarkan kebaikan melalui media sosial bahkan bisa menjadi sarana dakwah.

Namun, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah media sosial membuat kita semakin dekat kepada Allah, atau justru membuat kita lebih sibuk membangun citra sebagai orang yang dekat kepada-Nya?

Jangan sampai kita rajin mengunggah nasihat tentang kejujuran, tetapi masih berdusta dalam pekerjaan. Jangan sampai kita membagikan ayat tentang sedekah, tetapi menutup mata terhadap tetangga yang kelaparan. Jangan sampai kita lantang mengecam kemungkaran orang lain, tetapi selalu memiliki alasan untuk membenarkan kesalahan sendiri.

Agama tidak membutuhkan kita sekadar terlihat saleh. Kehidupan membutuhkan manusia yang benar-benar berusaha hidup sesuai dengan nilai-nilai kesalehan.


Ibadah seharusnya membentuk kesadaran, menghidupkan hati, dan memperbaiki perilaku manusia. (Foto: Ist)
 

Akhlak: Bukti yang Tidak Bisa Diabaikan

Baginda Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat menggugah tentang hubungan antara ibadah dan perilaku terhadap sesama. Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Baginda Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat tentang siapa orang yang bangkrut.

Para sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah mereka yang tidak memiliki uang dan harta. Namun, Baginda Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang bangkrut dari umatnya adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi juga membawa dosa karena mencaci orang lain, menuduh tanpa hak, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain.

Pahala kebaikannya kemudian diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Jika pahalanya habis sebelum semua tanggungannya selesai, dosa orang-orang yang dizaliminya dibebankan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.

Bayangkan seseorang yang bertahun-tahun menjaga salat, berpuasa, dan bersedekah. Ia merasa telah mengumpulkan banyak bekal akhirat. Namun, ternyata lisannya menyakiti orang lain, tangannya merampas hak sesama, dan kekuasaannya digunakan untuk menindas mereka yang lemah.

Tentu, hadis tersebut bukan alasan untuk meremehkan ibadah atau berputus asa dari rahmat Allah. Justru sebaliknya, hadis itu mengingatkan kita agar menjaga dua hubungan sekaligus: hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia.

Kita tidak boleh merasa cukup dengan kesalehan pribadi jika masih mengabaikan keadilan sosial. Kita tidak boleh bangga dengan banyaknya amal apabila masih enggan meminta maaf atas kesalahan. Kita tidak boleh merasa dekat dengan Allah jika kedekatan itu tidak membuat kita semakin berhati-hati dalam memperlakukan manusia.

Akhlak bukan pelengkap agama yang boleh diletakkan di urutan terakhir. Akhlak merupakan bagian penting dari pengamalan agama itu sendiri. Karena itu, ukuran perubahan setelah beribadah semestinya bukan hanya perasaan tenteram saat berdoa, melainkan juga kemampuan menahan amarah, menepati janji, menjaga amanah, menghormati orang lain, dan mengakui kesalahan.

Oleh karenanya, sebelum kita bertanya apakah ibadah kita telah cukup untuk mengantarkan ke surga, ada pertanyaan yang lebih mendesak untuk kita jawab hari ini: sudahkah ibadah itu membuat kita semakin layak disebut sebagai hamba Allah?  (*)


Kita tidak boleh merasa cukup dengan kesalehan pribadi jika masih mengabaikan keadilan sosial. (Foto: Ist)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor: Syahrir Rasyid

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut