Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sambut Peak Season, J&T Cargo Pastikan Layanan Logistik Jangkau 98% Wilayah Indonesia
Advertisement . Scroll to see content

Masa Depan MotoGP Mandalika di Ujung Tanduk, Perpanjangan Kontrak Masih Menggantung  

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 17:25 WIB
  • author Penulis : Syahrir Rasyid
Masa Depan MotoGP Mandalika di Ujung Tanduk, Perpanjangan Kontrak Masih Menggantung   
Sirkuit Mandalika. Indonesia berpotensi kehilangan menjadi tuan rumah MotoGP jika perpanjangan kontrak dengan pemegang hak komersial, Dorna Sports, tidak segera disepakati. (Foto: Ist)

Kontrak 2027–2031 Masih Menunggu Keputusan

Menjelang akhir Oktober 2026, kelanjutan MotoGP Mandalika masih menunggu keputusan resmi pemerintah. Dorna Sports disebut menawarkan skema perjanjian lima tahun ditambah lima tahun. Namun, hingga penyelenggaraan pada 9–11 Oktober 2026, belum ada pengumuman final mengenai perpanjangan kontrak untuk periode 2027–2031.

InJourney menyatakan bahwa keputusan tersebut memerlukan koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Keuangan, Danantara, serta kemungkinan Pemerintah Provinsi NTB. Besaran hosting fee menjadi salah satu pertimbangan penting dalam proses pembahasan tersebut.

Situasi ini menempatkan pemerintah pada pilihan yang tidak mudah. Mempertahankan MotoGP berarti menjaga momentum promosi internasional, aktivitas pariwisata, serta posisi Indonesia dalam kalender balap dunia. Namun, keputusan itu juga berarti melanjutkan komitmen pembiayaan yang besar setiap tahun.

Sebaliknya, tidak memperpanjang kontrak dapat mengurangi beban biaya tertentu, tetapi berpotensi menghilangkan salah satu magnet wisata internasional terbesar bagi Lombok.

Jika MotoGP tidak dilanjutkan, sektor usaha yang selama ini bergantung pada lonjakan pengunjung saat balapan akan menghadapi tantangan. Hotel, restoran, penyedia transportasi, pedagang, pekerja lepas, dan pelaku usaha pendukung harus mencari sumber permintaan baru untuk menggantikan sebagian aktivitas yang hilang.

Pemerintah daerah juga berpotensi kehilangan momentum promosi internasional yang selama ini terpusat pada MotoGP. Mandalika perlu bekerja lebih keras untuk menarik acara berskala besar lain atau memperkuat promosi destinasi secara mandiri.

Mandalika Harus Tetap Hidup di Luar Kalender MotoGP

Apa pun keputusan mengenai kontrak, pekerjaan rumah pemerintah dan pengelola kawasan tidak berhenti pada penyelenggaraan balapan.

Mandalika harus memiliki aktivitas pariwisata dan bisnis sepanjang tahun, bukan hanya ramai ketika pembalap dunia datang. Pengembangan destinasi perlu diarahkan agar hotel, restoran, transportasi, pusat rekreasi, dan berbagai usaha lokal tetap memiliki pasar di luar pekan balapan.

Pemerintah juga perlu membuka data evaluasi yang dapat diperiksa publik. Informasi mengenai biaya penyelenggaraan, kontribusi pemerintah, belanja wisatawan, tingkat hunian hotel, penyerapan tenaga kerja lokal, penerimaan daerah, hingga dampak lingkungan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih rasional.

Perpanjangan kontrak seharusnya tidak semata-mata menjadi persoalan gengsi mempertahankan status tuan rumah. Keputusan tersebut harus didasarkan pada manfaat jangka panjang, kemampuan pembiayaan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Jika MotoGP akhirnya tidak berlanjut, bukan berarti Sirkuit Mandalika harus menjadi aset terbengkalai. Lintasan dan fasilitasnya masih berpotensi digunakan untuk kejuaraan balap lain, kegiatan otomotif, pelatihan keselamatan berkendara, pengalaman berkendara di sirkuit, acara komunitas, hingga kegiatan korporasi.

Namun, pemanfaatan alternatif tersebut membutuhkan rencana bisnis yang realistis, pasar yang jelas, jadwal kegiatan yang konsisten, serta strategi pemeliharaan fasilitas. Menggantikan MotoGP dengan ajang lain bukan perkara mudah karena setiap kegiatan memiliki kebutuhan, nilai komersial, dan daya tarik yang berbeda.

Tanpa strategi pengganti yang matang, risiko terbesarnya adalah menurunnya pemanfaatan aset setelah investasi besar telanjur dilakukan. Sebaliknya, diversifikasi kegiatan dapat membantu sirkuit tetap produktif meskipun tidak lagi menjadi tuan rumah MotoGP.

Pada akhirnya, masa depan MotoGP Mandalika bukan hanya tentang memperpanjang atau mengakhiri kontrak. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan investasi besar tersebut terus memberikan manfaat ekonomi, menjaga keberlanjutan pariwisata, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

MotoGP dapat menjadi instrumen penting untuk mencapai tujuan itu. Namun, keberhasilan jangka panjang Mandalika tidak boleh bergantung pada satu ajang olahraga saja.

Dengan atau tanpa MotoGP, Mandalika harus tetap produktif dan masyarakat lokal harus terus merasakan manfaatnya. (*)


Di balik potensi manfaatnya, MotoGP merupakan acara yang membutuhkan pembiayaan besar. Selain perawatan sirkuit, terdapat biaya hak penyelenggaraan atau hosting fee, logistik, keamanan, operasional, promosi. (Foto: Ist)

Editor: Syahrir Rasyid

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut