“Kami percaya setiap peristiwa sebaiknya dilihat secara utuh dan berdasarkan fakta. Ketika sebuah potongan video disertai narasi yang tidak lengkap, hal itu bisa menimbulkan kesalahpahaman yang akhirnya merugikan banyak pihak,” ujarnya.
Zendhy juga menyampaikan bahwa terdapat rekaman lain yang menunjukkan situasi berbeda dari yang berkembang di media sosial. Dalam rekaman tersebut terlihat bahwa dirinya datang dengan niat menyelesaikan persoalan secara baik, termasuk ketika hendak melakukan pembayaran.
Namun dalam situasi tersebut justru terjadi respons yang tidak kondusif dari pihak lain, sehingga situasi menjadi semakin tidak nyaman.
Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut tidak sesederhana potongan video yang beredar di media sosial.
Zendhy menegaskan bahwa setelah kejadian tersebut dirinya tetap berupaya menyelesaikan persoalan secara langsung dengan pihak restoran.
“Saya datang kembali untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung dan menyelesaikan kewajiban pembayaran. Harapan saya sebenarnya sederhana, persoalan ini bisa diselesaikan secara baik tanpa harus berkembang menjadi polemik besar,” ujarnya.
Zendhy juga menyampaikan bahwa saat ini persoalan tersebut tengah berada dalam proses hukum dan ia menghormati sepenuhnya proses yang sedang berjalan.
“Saya percaya proses hukum akan melihat seluruh peristiwa ini secara utuh dan objektif,” katanya.
Melalui klarifikasi ini, Zendhy juga mengajak masyarakat untuk melihat peristiwa tersebut secara lebih bijak serta menjadikannya sebagai pelajaran bersama.
“Mungkin kita semua bisa belajar dari kejadian ini. Belajar menjadi konsumen yang lebih baik, belajar menjadi pemilik usaha yang lebih bijak dalam menyikapi pelanggan, dan juga belajar menjadi netizen yang tidak mudah melakukan cyberbullying,” kata Zendhy.
Ia berharap ruang digital dapat menjadi tempat yang lebih sehat, di mana setiap persoalan tidak langsung berubah menjadi penghakiman massal terhadap seseorang maupun keluarganya.
“Pada akhirnya kita semua adalah manusia yang bisa melakukan kesalahan. Yang penting adalah bagaimana kita belajar dan memperbaikinya tanpa harus saling menghancurkan di ruang digital,” tutupnya.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
