Tanpa muhasabah, manusia mudah terjebak dalam rutinitas yang membuatnya lupa pada tujuan hidup. Sebaliknya, dengan muhasabah diri yang ia lakukan, maka muhasabah tersebut dapat menjadi “rem” yang andal agar hidup tidak kebablasan.
Kesibukan dunia sering membuat manusia lupa pada tujuan hidupnya. Banyak orang bekerja keras sepanjang hidupnya untuk mengumpulkan kekayaan atau mengejar jabatan. Namun tidak semua orang sempat bertanya: untuk apa semua ini?
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an telah memberikan jawaban yang sangat jelas. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
I’tikaf mengingatkan kembali bahwa hidup manusia tidak berhenti pada dunia. Ada kehidupan yang lebih panjang setelah kematian. Kesadaran ini membuat seseorang lebih bijak dalam menjalani hidup. Dengan i’tikaf berarti ia sedang memilih ketenangan daripada kebisingan.
I’tikaf memberikan waktu yang cukup bagi seorang muslim untuk membaca, memahami, dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an. Sering kali dalam keheningan malam Ramadhan, satu ayat Al-Qur’an saja sudah cukup untuk menggugah hati seseorang dan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Terakhir, ketahuilah bahwa dunia modern tidak akan pernah berhenti bergerak. Teknologi akan terus berkembang, informasi akan semakin cepat, dan kehidupan akan semakin kompetitif.
Namun, manusia tetap membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dari riuhnya dunia. I’tikaf adalah salah satu cara Islam mengajarkan manusia untuk keluar sejenak dari keriuhan dunia dan kembali kepada Allah.
Di dalam masjid, di tengah keheningan malam Ramadhan, manusia menemukan sesuatu yang sering hilang dalam kehidupan modern, yaitu ketenangan hati. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)
Mungkin dunia akan tetap riuh. Tetapi melalui i’tikaf, seorang muslim belajar satu hal penting: bahwa kedamaian sejati tidak ditemukan dalam keriuhan dunia, melainkan di ruang sunyi dalam kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (*)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
