Sementara itu, Baginda Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam menjalankan i’tikaf. Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan: “Rasulullah SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa i’tikaf merupakan amalan yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Pada malam-malam tersebut, Baginda Rasulullah SAW meningkatkan ibadahnya untuk mencari Lailatul Qadr.
Tentang Lailatul Qadr, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr [97]: 3). Inilah salah satu alasan mengapa Baginda Rasulullah SAW begitu bersungguh-sungguh dalam i’tikaf.
Krisis Spiritual di Era Modern
Jika kita jujur melihat realitas kehidupan hari ini, manusia modern sebenarnya sedang menghadapi krisis spiritual yang cukup serius. Kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat. Namun di sisi lain, ia juga menciptakan budaya hidup yang serba cepat, kompetitif, dan penuh distraksi.
Media sosial membuat manusia sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Banyak orang merasa harus selalu terlihat sukses, bahagia, dan sempurna. Akibatnya, muncul tekanan psikologis yang tidak kecil.
Fenomena burnout, stres kerja, dan kecemasan hidup semakin sering terjadi. Banyak orang merasa hidupnya penuh aktivitas tetapi kehilangan makna. Di sinilah i’tikaf menjadi sangat relevan. Ia menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan dalam kehidupan modern, yakni kesunyian.
I’tikaf sebagai Ruang Sunyi
Masjid pada malam hari di sepuluh hari terakhir Ramadhan menghadirkan suasana yang berbeda. Lampu mungkin tidak terlalu terang, suara manusia tidak terlalu ramai, dan sebagian orang tenggelam dalam doa serta tilawah Al-Qur’an.
Di ruang sunyi itulah manusia mulai berbicara dengan dirinya sendiri. Ia mulai bertanya kepada dirinya terkait dengan kehidupannya yang telah ia jalani. Hari-hari yang telah dilalui, waktu-waktu yang terus berlalu, diisi dengan apa semuanya itu?
Mungkin ia akan bertanya: Apakah hidup yang saya jalani selama ini sudah benar? Apakah kesibukan yang saya kejar benar-benar membawa kebahagiaan? Apakah hubungan saya dengan Allah sudah cukup baik? Dan segudang pertanyaan lainnya.
I’tikaf memberikan kesempatan bagi manusia untuk melakukan muhasabah, yaitu evaluasi diri secara jujur. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)
Setiap hari manusia modern bangun dengan rutinitas yang hampir sama: mengecek ponsel, membaca pesan, membuka media sosial, lalu bergegas mengejar pekerjaan. (Foto: Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
