HIKMAH JUMAT : Ada Apa di Balik Darah Qurban?

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Qurban adalah ibadah hati. Ia bukan hanya ritual fisik, tetapi simbol kepatuhan total seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

SETIAP KALI Hari Raya Idul Adha datang, gema takbir memenuhi langit. Masjid dan lapangan dipadati kaum muslimin yang bersujud penuh syukur. Di sudut-sudut kampung, hewan-hewan qurban mulai disiapkan. Pisau diasah, tali diikat, dan takbir kembali dikumandangkan.

Namun sesungguhnya, qurban bukan sekadar tentang darah yang mengalir atau daging yang dibagikan. Di balik semua itu, ada cinta yang agung dan ketakwaan yang mendalam.

Qurban adalah ibadah hati. Ia bukan hanya ritual fisik, tetapi simbol kepatuhan total seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, yang paling penting dalam qurban bukanlah seberapa besar hewan yang disembelih, melainkan seberapa tulus hati yang mengorbankannya.

Allah berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj [22]: 37)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa inti qurban bukan pada darahnya, melainkan pada nilai ketakwaannya. Allah tidak membutuhkan daging atau darah makhluk-Nya. Allah Maha Kaya. Yang Allah lihat adalah hati yang ikhlas, jiwa yang tunduk, dan cinta seorang hamba yang rela berkorban demi-Nya.

Karena itu, qurban sesungguhnya adalah pelajaran tentang cinta. Cinta kepada Allah yang harus berada di atas segala-galanya.

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi bukti paling nyata tentang hal ini. Ketika Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail ‘alaihissalam, ujian itu bukan sekadar tentang kehilangan anak, tetapi tentang siapa yang paling dicintai dalam hidupnya: Allah atau yang lain.

Allah mengabadikan kisah itu dalam firman-Nya: “Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’

Ia menjawab, ‘Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)

Betapa berat ujian itu. Nabi Ibrahim mendapatkan Ismail setelah penantian panjang selama puluhan tahun. Ismail bukan hanya seorang anak, tetapi cahaya harapan dan kebahagiaan di masa tua. Namun ketika cinta kepada Ismail mulai memenuhi hati, Allah menguji: apakah cinta itu melebihi cinta kepada-Nya?


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : Dok Pribadi)
 

Dan Nabi Ibrahim pun lulus dari ujian tersebut. Di situlah makna qurban yang sesungguhnya: ketika manusia rela melepaskan sesuatu yang dicintainya demi Allah.

Hari ini, mungkin Allah tidak meminta kita mengorbankan anak sebagaimana Nabi Ibrahim. Tetapi Allah meminta kita mengorbankan ego, kesombongan, hawa nafsu, dan kecintaan berlebihan kepada dunia.

Sebab sering kali yang paling sulit disembelih bukan hewan qurban, melainkan nafsu dalam diri sendiri. Di era modern ini, manusia hidup dalam budaya “memiliki”. Semua ingin dimiliki: harta, jabatan, popularitas, pengakuan, dan kesenangan dunia.

Banyak orang bekerja tanpa henti hingga melupakan ibadah. Banyak yang rela mengorbankan prinsip agama demi keuntungan sesaat. Bahkan tidak sedikit yang lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan iman.

Padahal Allah telah mengingatkan: “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92)

Ayat ini menunjukkan bahwa nilai pengorbanan terletak pada sesuatu yang dicintai. Karena itu qurban bukan hanya soal membeli hewan terbaik, tetapi tentang keberanian mengalahkan rasa cinta terhadap dunia demi meraih cinta Allah.

Sayangnya, di zaman media sosial seperti sekarang, ibadah qurban kadang bergeser menjadi ajang pencitraan. Dokumentasi hewan qurban diunggah demi pujian manusia. Ada yang lebih sibuk menghitung harga sapi daripada memperbaiki niat hati. Akibatnya, qurban kehilangan ruh spiritualnya.

Baginda Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amal tanpa keikhlasan tidak bernilai di sisi Allah. Beliau bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini seolah mengingatkan kita agar berhati-hati menjaga niat dalam berqurban. Jangan sampai ibadah yang mulia justru ternodai oleh riya dan keinginan dipuji.

Selain mengajarkan cinta kepada Allah, qurban juga mengajarkan kepedulian sosial. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan. Islam ingin membangun rasa empati dan persaudaraan. Bahwa kebahagiaan tidak boleh hanya dinikmati sendiri.

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, meningkatnya kemiskinan, dan mahalnya kebutuhan hidup, qurban menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang menghadirkan kasih sayang sosial. Ketika seseorang berqurban, ia sedang belajar bahwa sebagian hartanya ada hak orang lain di dalamnya.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang.” (HR. Tirmidzi)


Banyak orang bekerja tanpa henti hingga melupakan ibadah. Banyak yang rela mengorbankan prinsip agama demi keuntungan sesaat. (Foto/Illustrasi: Ist)
 

Qurban melatih manusia agar tidak menjadi pribadi yang egois. Sebab salah satu penyakit terbesar manusia modern adalah individualisme: sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan penderitaan orang lain.

Padahal ketakwaan sejati bukan hanya rajin beribadah secara pribadi, tetapi juga memiliki hati yang peduli kepada sesama. Maka qurban adalah kombinasi indah antara hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal kepada manusia.

Lebih jauh lagi, qurban mengajarkan bahwa setiap cinta pasti membutuhkan pengorbanan. Tidak ada cinta tanpa pengorbanan. Seorang ibu berkorban demi anaknya. Seorang ayah bekerja keras demi keluarganya. Bahkan dalam kehidupan dunia saja, manusia rela berkorban demi sesuatu yang dicintainya.

Lalu mengapa kita sering sulit berkorban untuk Allah?

Mengapa berat bangun shalat malam?

Mengapa sulit menyisihkan harta untuk sedekah?

Mengapa mudah mengejar dunia tetapi lalai mengejar akhirat?

Boleh jadi karena cinta kita kepada Allah masih lemah.

Padahal Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa puncak iman adalah ketika cinta kepada Allah mengalahkan cinta kepada apa pun. Dan itulah inti qurban.

Maka ketika darah hewan qurban mengalir di Hari Raya Idul Adha, sesungguhnya ada pesan besar yang sedang Allah sampaikan kepada manusia: bahwa hidup bukan hanya tentang mengambil, tetapi juga memberi; bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga melepaskan; bukan hanya tentang dunia, tetapi juga akhirat.

Qurban mengajarkan kita untuk mencintai Allah lebih dari segalanya. Mengajarkan kita untuk membersihkan hati dari keserakahan. Mengajarkan kita untuk peduli kepada sesama. Dan mengajarkan kita bahwa ketakwaan lahir dari pengorbanan.

Semoga Idul Adha tahun ini tidak hanya menghadirkan keramaian dan tradisi tahunan, tetapi benar-benar melahirkan hati yang lebih lembut, jiwa yang lebih ikhlas, dan cinta kepada Allah yang semakin kuat. Karena di balik darah qurban, sesungguhnya ada cinta dan ketakwaan. (*)


Di zaman media sosial seperti sekarang, ibadah qurban kadang bergeser menjadi ajang pencitraan. Dokumentasi hewan qurban diunggah demi pujian manusia. (Foto: Ist)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network