HIKMAH JUMAT -- Korupsi Tak Akan Pernah Mati Jika Hati Masih Bisa Dibeli

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Kejaksaan Agung serahkan uang hasil korupsi sebesar Rp 13T kepada Kemenkeu. Korupsi di negeri ini telah menjadi rutinitas yang tidak lagi mengejutkan. Yang berganti hanya nama pelakunya, sementara modus dan kerakusannya tetap sama. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

SETIAP KALI seorang pejabat ditangkap karena korupsi, publik marah. Media ramai memberitakan, dan media sosial dipenuhi kecaman. Namun, beberapa hari kemudian, kasus baru muncul kembali.

Di negeri kita ini, seolah-olah korupsi telah menjadi rutinitas yang tidak lagi mengejutkan. Yang berganti hanya nama pelakunya, sementara modus dan kerakusannya tetap sama.

Ironisnya, banyak pelaku korupsi bukanlah orang yang hidup dalam kemiskinan. Mereka bergaji tinggi, memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, bahkan dihormati masyarakat.

Namun, semua itu belum cukup memuaskan nafsu mereka. Jabatan yang semestinya menjadi amanah justru berubah menjadi ladang untuk mengumpulkan kekayaan. Kekuasaan yang seharusnya digunakan melayani rakyat malah dipakai melampiaskan hawa nafsunya.

Inilah yang disebut krisis moral dan krisis spiritual. Islam memandang jabatan bukan sebagai hak istimewa, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa [4]: 58)

Ayat ini seharusnya menjadi panduan bagi setiap pemegang kekuasaan. Sayangnya, sebagian orang justru memandang jabatan sebagai investasi. Biaya politik yang mahal dianggap harus "kembali modal". Dari sinilah korupsi menemukan pintu masuknya.

Korupsi Berawal dari Hati yang Kehilangan Rasa Takut kepada Allah

Korupsi terjadi bukan karena pelakunya kekurangan harta, melainkan karena telah hilangnya rasa takut kepada Allah. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (QS. Ghafir [40]: 19)

Koruptor mungkin mampu menghapus jejak transaksi, merekayasa laporan keuangan, atau menyembunyikan aset melalui berbagai cara. Mereka mungkin dapat mengelabui auditor, penyidik, bahkan masyarakat. Namun, tidak ada satu pun yang dapat disembunyikan dari Allah.

Inilah yang membedakan sistem pengawasan manusia dengan pengawasan Allah. Kamera pengawas hanya bekerja ketika listrik menyala. Aparat hanya dapat bertindak ketika bukti ditemukan. Tetapi pengawasan Allah tidak pernah berhenti sedetik pun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  mengingatkan: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Anfal [8]: 27)


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 

Setiap rupiah yang dikorupsi sesungguhnya bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Di balik uang itu ada hak masyarakat yang dirampas. Ada sekolah yang gagal dibangun. Ada jalan yang cepat rusak. Ada rumah sakit yang kekurangan fasilitas. Ada anak-anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.

Korupsi bukanlah kejahatan tanpa korban. Korbannya adalah seluruh rakyat, terutama mereka yang paling lemah. Karena itu, korupsi tidak boleh dipandang sebagai sekadar tindak pidana ekonomi. Ia adalah bentuk kezaliman yang dampaknya meluas dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Islam Tidak Hanya Menghukum, Tetapi Membentuk Karakter

Selama ini, pemberantasan korupsi lebih banyak berfokus pada hukuman. Hukuman memang penting, tetapi hukuman hanya bekerja setelah kejahatan terjadi. Islam bergerak lebih jauh. Islam membangun benteng sebelum kejahatan dilakukan.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.... Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kejujuran bukan hanya nilai pribadi, tetapi fondasi sebuah negara. Tidak ada bangsa yang benar-benar maju apabila kejujuran mati. Sebaliknya, banyak negara runtuh bukan karena kekurangan sumber daya alam, tetapi karena korupsi yang terus menggerogoti.

Karakter berikutnya adalah qanaah yang merupakan lawan dari serakah alias tamak atau miskin hati. Pelaku korupsi sebagian besar adalah mereka yang sudah memiliki banyak harta, namun tidak memiliki rasa qanaah.

Padahal Islam telah lama mengingatkan bahwa masalahnya bukan pada sedikit atau banyaknya harta, melainkan penyakit tamak. Ketika hati miskin, berapa pun gaji akan terasa kurang. Ketika hati dipenuhi qana'ah, rezeki yang halal, walaupun sedikit, akan terasa cukup.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Karena itu, pendidikan antikorupsi yang sesungguhnya bukan hanya mengajarkan aturan, tetapi juga membentuk karakter yang sederhana, amanah, dan takut kepada Allah.

Korupsi akan semakin sulit diberantas ketika hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Ketika masyarakat melihat adanya perlakuan berbeda terhadap pelaku kejahatan, kepercayaan terhadap hukum ikut terkikis.

Islam memberikan teladan yang sangat tegas. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Pelaku korupsi lupa bahwa jabatan yang semestinya menjadi amanah justru dijadikan ladang untuk mengumpulkan kekayaan. (Foto: Ist)
 

Pesan hadits ini sangat jelas: kedudukan, hubungan keluarga, jabatan, maupun kekuasaan tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari keadilan. Keadilan yang konsisten akan melahirkan kepercayaan. Sebaliknya, keadilan yang tebang pilih hanya akan melahirkan sinisme dan keberanian untuk mengulangi korupsi.

Memberantas korupsi tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Masjid harus menjadi tempat menanamkan nilai amanah. Sekolah harus mengajarkan integritas, bukan sekadar mengejar nilai akademik, dan keluarga harus membiasakan kejujuran sejak dini.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Kita memiliki banyak lulusan perguruan tinggi terbaik, sistem hukum yang terus diperbaiki, dan teknologi pengawasan yang semakin modern. Yang masih langka adalah manusia yang benar-benar takut mengkhianati amanah.

Islam telah menawarkan resep yang lengkap sejak lebih dari empat belas abad lalu: membangun iman, menanamkan amanah, menghidupkan rasa muraqabah (merasa diawasi Allah), membiasakan hidup qana'ah, menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, serta mendidik kejujuran sejak dini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: "Dan barang siapa berkhianat, niscaya pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya." (QS. Ali 'Imran [3]: 161)

Ayat ini adalah peringatan bahwa tidak ada korupsi yang benar-benar selesai hanya karena pelakunya telah keluar dari penjara. Seluruh harta yang diambil secara zalim akan menjadi beban pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Jika bangsa ini sungguh-sungguh ingin memutus mata rantai korupsi, maka yang harus dibangun bukan hanya sistem yang kuat, tetapi juga hati yang lurus. Sebab korupsi lahir dari hati yang gelap, dan hanya cahaya iman yang mampu memadamkannya.

Ketika hati tidak lagi dapat dibeli, jabatan tidak lagi disalahgunakan, dan rasa takut kepada Allah benar-benar hidup, saat itulah Indonesia memiliki harapan untuk keluar dari lingkaran korupsi yang selama ini menggerogoti masa depan negeri kita. (*)


Biaya politik yang mahal dianggap harus "kembali modal" segera. Dari sinilah korupsi menemukan pintu masuknya. (Foto: Ist)
 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network