Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
KITA HIDUP di zaman yang aneh. Sedikit masalah membuat orang mengeluh. Sedikit kegagalan membuat orang menyerah. Sedikit kritik membuat orang marah. Sedikit godaan membuat prinsip menjadi goyah.
Bahkan, ketika kepentingan pribadi bertabrakan dengan nilai agama, tidak sedikit orang yang memilih mengorbankan iman demi kenyamanan. Kemudian dia berkata, “Saya sedang diuji.” Pertanyaannya: apa yang terjadi pada iman kita ketika ujian itu benar-benar datang?
Sebab ujian bukan sekadar untuk mengetahui seberapa kuat tubuh kita menghadapi tekanan. Ujian adalah cara Allah memperlihatkan seberapa kokoh iman, akhlak, dan ketakwaan kita.
Di sinilah firman Allah pada Al-Qur’an surat Ali Imran [3] ayat ke-200 terasa seperti tamparan keras bagi manusia modern: “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
Perhatikan baik-baik. Allah tidak hanya berkata, “bersabarlah”, melainkan ada empat perintah: ishbiru, shabiru, rabithu, dan ittaqullah. Dan semuanya ditutup dengan satu tujuan: la'allakum tuflihun (agar kamu beruntung).
Sabar dalam Islam bukan sikap menyerah kepada keburukan. Sabar adalah keteguhan untuk tetap berada di jalan yang benar meskipun jalan itu berat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)
Sabar membutuhkan keberanian. Sebab mempertahankan kejujuran ketika orang lain memilih korupsi membutuhkan sabar. Menolak suap ketika kesempatan terbuka membutuhkan sabar. Menjaga kehormatan ketika godaan begitu dekat membutuhkan sabar. Jadi, sabar bukan kelemahan. Sabar adalah kekuatan yang dikendalikan iman.
Bukan Hanya Bertahan, Tetapi Saling Menguatkan
Menariknya lagi, setelah ishbiru, Allah berfirman, “wa shabiru” (kuatkanlah kesabaranmu). Seolah-olah Allah ingin mengatakan: jangan hanya menjadi manusia yang mampu bertahan sendiri. Bangun masyarakat yang saling menguatkan.
Hari ini kita hidup dalam masyarakat yang sangat mudah menghakimi. Ketika seseorang jatuh, komentar berdatangan. Ketika seseorang gagal, orang ramai mencibir. Ketika seseorang melakukan kesalahan, media sosial segera menjadi ruang pengadilan.
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
Tetapi ketika seseorang sedang berjuang memperbaiki dirinya, berapa banyak yang datang untuk menguatkan?
Padahal Bagida Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bangunan yang kokoh bukan karena setiap batunya berdiri sendiri. Ia kokoh karena setiap bagian saling menopang. Kita membutuhkan budaya saling menguatkan dalam kebenaran, bukan budaya saling membenarkan dalam kesalahan.
Bukan Tidak Tahu yang Benar, Tetapi Tidak Teguh Menjalankannya
Perintah ketiga dalam ayat tersebut adalah “wa rabithu”, (tetaplah teguh, bersiaplah, jangan lengah). Inilah yang sangat relevan dengan zaman sekarang.
Kita sebenarnya sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita tahu korupsi itu haram. Kita tahu suap itu dosa. Kita tahu dusta itu tercela. Kita tahu menzalimi orang lain adalah kejahatan. Kita tahu amanah harus dijaga.
Tetapi mengetahui kebenaran ternyata tidak otomatis membuat seseorang setia kepada kebenaran. Di sinilah persoalannya. Karena itu Al-Qur’an tidak berhenti pada sabar. Kita diperintahkan tetap teguh. Sebab godaan terbesar manusia bukan selalu ketidaktahuan. Sering kali kita tahu yang benar, tetapi tidak sanggup mempertahankannya ketika kepentingan datang menggoda.
Dan Ujungnya: Takwa
Setelah sabar, saling menguatkan, dan tetap teguh, Allah memberikan kunci terakhir: “Wattaqullah” (bertakwalah kepada Allah). Mengapa takwa ditempatkan di ujung? Karena semua keteguhan pada akhirnya harus memiliki fondasi: kesadaran bahwa hidup ini diawasi Allah.
Ketika tidak ada kamera, apakah kita tetap jujur? Ketika tidak ada atasan, apakah kita tetap bekerja dengan benar? Ketika memiliki kesempatan mengambil sesuatu yang bukan hak kita, apakah kita tetap mampu berkata tidak?
Ketika memiliki kekuasaan untuk memanfaatkan jabatan demi kepentingan pribadi, apakah kita masih ingat bahwa jabatan adalah amanah? Di situlah takwa diuji.
Takwa bukan sekadar banyaknya simbol keagamaan yang melekat pada diri seseorang. Takwa terlihat ketika iman bertemu dengan godaan. (Foto: Ist)
Takwa bukan sekadar banyaknya simbol keagamaan yang melekat pada diri seseorang. Takwa terlihat ketika iman bertemu dengan godaan. Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu menghapusnya, dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa takwa bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah. Takwa harus melahirkan akhlak sosial. Orang yang benar-benar bertakwa tidak akan merasa bebas berbuat apa saja hanya karena memiliki kekuasaan.
Ujian Boleh Mengguncang, Tetapi Jangan Sampai Menghancurkan
Pada akhirnya, setiap manusia akan diuji. Ada yang diuji dengan kemiskinan. Ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan kehilangan. Ada yang diuji dengan jabatan. Ada yang diuji dengan popularitas. Ada yang diuji dengan kekuasaan.
Jangan mengira hanya kesulitan yang merupakan ujian. Kekayaan adalah ujian. Jabatan adalah ujian. Kepandaian adalah ujian. Bahkan popularitas adalah ujian. Yang menentukan bukan besar kecilnya ujian, tetapi apa yang terjadi pada iman kita setelah ujian itu datang.
Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)
Maka jangan selalu bertanya, “Mengapa Allah mengujiku?”
Sebab pada akhirnya, kemenangan bukan milik orang yang tidak pernah jatuh. Kemenangan adalah milik orang yang setiap kali jatuh, ia bangkit; setiap kali diuji, ia semakin dekat kepada Allah; dan setiap kali digoda, ia tetap memilih kebenaran.
Itulah makna penutup QS. Ali Imran [3] ayat ke-200: “Agar kamu beruntung.”
Maka jangan hanya menjadi orang yang pandai bersabar. Jadilah manusia yang mampu bertahan dalam kebenaran. Dunia membutuhkan manusia yang tetap jujur ketika kejujuran merugikannya, tetap amanah ketika kesempatan berkhianat terbuka, tetap rendah hati ketika memiliki kekuasaan, dan tetap takut kepada Allah ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Sabar saja tidak cukup. Kita harus bersabar, saling menguatkan, tetap teguh, dan bertakwa. Sebab ujian mungkin mengguncang hidup kita, tetapi jangan pernah biarkan ujian mengguncang iman kita. (*)
Pada akhirnya, setiap manusia akan diuji. Ada yang diuji dengan kemiskinan. Ada yang diuji dengan kekayaan. (Foto: Ist)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
