Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
ADA YANG SAKIT dalam tubuh bangsa ini. Gejalanya terlihat di mana-mana: korupsi yang tak kunjung berhenti, suap yang menyusup ke berbagai lini pelayanan, penyalahgunaan jabatan, kekerasan, ketidakjujuran, hingga semakin tipisnya kepedulian terhadap sesama.
Kita mungkin berbeda dalam membaca penyebabnya. Ada yang menyebut lemahnya penegakan hukum. Ada yang menunjuk buruknya sistem. Ada pula yang menyalahkan politik, ekonomi, pendidikan, atau ketimpangan sosial.
Semua itu mungkin benar. Tetapi ada satu persoalan yang sering luput dari perhatian yaitu krisis akhlak. Bangsa yang kehilangan akhlak sesungguhnya sedang menanam benih kehancurannya sendiri.
Sebab ketika kejujuran dianggap sebagai kebodohan, keserakahan disebut keberhasilan, jabatan dipandang sebagai kesempatan memperkaya diri, suap dianggap sesuatu yang biasa, dan kekuasaan digunakan untuk kepentingan kelompok, sesungguhnya yang sedang hancur bukan hanya moral individu. Yang sedang hancur adalah fondasi bangsa.
Krisis akhlak dapat dilihat dari hilangnya rasa malu. Orang tidak lagi malu berbohong. Tidak malu mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tidak malu menyalahgunakan jabatan. Tidak malu memperkaya diri di tengah kesulitan rakyat. Bahkan ada yang tidak malu mempertontonkan gaya hidup mewah ketika sumber kekayaannya dipertanyakan masyarakat.
Lebih berbahaya lagi ketika masyarakat mulai terbiasa. Korupsi diberitakan, lalu dilupakan. Suap terungkap, lalu dianggap biasa. Pejabat tersandung kasus, tetapi setelah beberapa waktu masih bisa tampil sebagai tokoh terhormat.
Ketika sesuatu yang salah terus-menerus dilakukan dan masyarakat berhenti merasa terganggu, kejahatan sedang mengalami proses normalisasi. Di sinilah sebuah bangsa harus berhati-hati.
Sebab kehancuran bangsa tidak selalu dimulai dengan perang atau bencana besar. Kadang ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: ketika manusia tidak lagi merasa bersalah setelah berbuat salah.
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
