HIKMAH JUMAT : Ketika Bencana Tak Kunjung Usai

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Belum selesai duka akibat gempa Flores, masyarakat kembali menghadapi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Foto: Ist)

Bencana dan Amanah sebagai Khalifah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Menjadi khalifah bukan berarti manusia bebas mengeksploitasi bumi. Khalifah berarti amanah.

Maka hutan bukan sekadar kayu. Sungai bukan sekadar saluran air. Laut bukan sekadar sumber ikan. Tanah bukan sekadar objek investasi. Alam adalah bagian dari amanah Allah. Baginda Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini seharusnya menjadi etika lingkungan. Jangan membuang sampah yang akhirnya menyumbat sungai. Jangan membakar lahan yang akhirnya menghasilkan asap dan merusak ekosistem. Jangan mengeksploitasi alam tanpa batas hanya demi keuntungan sesaat. Jangan membangun tanpa menghitung keselamatan manusia.

Sebab keuntungan yang diperoleh hari ini bisa berubah menjadi kerugian yang harus dibayar generasi mendatang.

Saatnya Muhasabah Ekologis

Mungkin kita tidak bisa menghentikan gempa. Mungkin kita tidak bisa menghentikan erupsi. Tetapi kita bisa mengurangi kerentanan. Kita bisa menjaga hutan. Kita bisa mengelola sampah.

Kita bisa menghentikan pembakaran lahan sembarangan. Kita bisa memperbaiki tata ruang. Kita bisa membangun rumah dan fasilitas publik yang lebih tahan bencana. Kita bisa memperkuat sistem peringatan dini. Dan kita bisa mendidik generasi muda agar memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman dan amanah.

Maka jangan hanya bertanya: “Mengapa Allah menurunkan begitu banyak bencana?” Tanyakan pula: “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada kita melalui semua ini?”

Gempa Flores mengajarkan kerendahan hati. Anak Krakatau mengajarkan keterbatasan manusia. Karhutla mengingatkan bahaya keserakahan dan kelalaian. Seluruh rangkaian bencana itu mengingatkan kita bahwa manusia bukan penguasa mutlak bumi. Kita hanyalah khalifah yang sedang menjalankan amanah.

Maka mungkin inilah saatnya kita tidak hanya melakukan mitigasi bencana, tetapi juga mitigasi keserakahan. Tidak hanya membangun tanggul, tetapi juga membangun kesadaran. Tidak hanya menanam kembali hutan, tetapi juga menanam kembali akhlak.

Sebab bencana tidak selalu dapat kita cegah. Tetapi kelalaian bisa kita cegah. Kerusakan lingkungan bisa kita kurangi. Keserakahan bisa kita lawan, dan amanah sebagai khalifah bisa kita tunaikan. (*)


Karhutla menjadi salah satu wajah paling nyata dari persoalan lingkungan Indonesia pada 2026. (Foto: Ist)

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network