HIKMAH JUMAT : Begitulah Dunia

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Purbaya Yudhi Sadewa bersama jurnalis usai dicopot dari jabatan Menteri Keuangan. Jabatan boleh berganti. Kekuasaan boleh berpindah. Tetapi amanah dan pertanggungjawaban tidak pernah ikut berganti. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

BEBERAPA HARI belakangan ini, di berbagai media khususnya media sosial ramai membahas pergantian yang tampak mendadak terhadap seorang menteri yang digantikan oleh wakilnya. Berbagai tanggapan baik pro maupun kontra bermunculan.

Terlepas dari pro-kontra terhadap pergantian tersebut, ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian sebuah kursi jabatan seorang menteri. Jabatan boleh berganti. Kekuasaan boleh berpindah. Tetapi amanah dan pertanggungjawaban tidak pernah ikut berganti.

Kita terlalu mudah terpukau oleh kursi, pangkat, jabatan, fasilitas, penghormatan dan kekuasaan. Seolah-olah semua itu adalah tanda keberhasilan hidup. Padahal Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah setinggi apa kedudukannya di dunia, melainkan seberapa bertakwa ia kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Ayat ini seperti membalik cara pandang manusia. Dunia menghitung kekuasaan dengan angka, fasilitas, dan pengaruh, sedangkan akhirat menghitungnya dengan amal dan pertanggungjawaban.

Jabatan Adalah Amanah

Islam tidak pernah melarang manusia menjadi pejabat atau pemimpin. Bahkan kepemimpinan diperlukan untuk mengatur kehidupan manusia. Tetapi Islam memberikan peringatan keras: jabatan bukan hadiah, melainkan amanah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa [4]: 58)

Perhatikan kata amanah. Ketika seseorang menerima jabatan, sesungguhnya ia tidak sekadar menerima ruang kerja, fasilitas negara, kewenangan atau tanda tangan. Ia menerima amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Baginda Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan sangat serius tentang kepemimpinan. Kepada Abu Dzar yang meminta jabatan, Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah. Dan sesungguhnya jabatan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini seharusnya membuat siapa pun yang sedang duduk di kursi kekuasaan berhenti sejenak dan merenung. Sebab kursi yang empuk di dunia belum tentu menjadi tempat yang nyaman di akhirat.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
 

Jabatan yang membuat seseorang dihormati manusia bisa menjadi sumber penyesalan apabila amanahnya disia-siakan. Sebaliknya, jabatan yang digunakan untuk melayani, menegakkan keadilan dan memberikan kemaslahatan dapat menjadi jalan menuju pahala.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata siapa yang duduk di kursi kekuasaan, melainkan apa yang dilakukan ketika seseorang duduk di sana.

Ketika Kursi Berganti

Pergantian jabatan mengajarkan satu hukum kehidupan: tidak ada kursi dunia yang benar-benar milik kita. Hari ini seseorang dipanggil “Menteri”. Besok tidak lagi. Hari ini seseorang memiliki kewenangan. Besok kewenangan itu berpindah.

Hari ini seseorang masuk ke ruangan dengan pengawalan. Kelak ia akan masuk ke liang lahat tanpa membawa satu pun pengawal. Itulah perbedaan dunia dan akhirat.

Di dunia, seseorang bisa membawa jabatan ke dalam kartu nama. Di akhirat, tidak ada kartu nama. Di dunia, seseorang bisa membawa gelar. Di akhirat, gelar tidak menyelamatkan.

Di dunia, seseorang bisa memiliki banyak orang yang menghormatinya. Di akhirat, yang berbicara adalah amalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran [3]: 185)

Kemudian Allah melanjutkan: “Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Ayat ini bukan berarti dunia harus ditinggalkan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjauhi kehidupan dunia. Justru dunia adalah ladang tempat manusia menanam amal.

Tetapi masalahnya muncul ketika ladang dianggap sebagai tujuan akhir. Jabatan menjadi tujuan. Kekayaan menjadi tujuan. Kekuasaan menjadi tujuan. Popularitas menjadi tujuan. Padahal semuanya hanyalah alat.

Oleh karenanya, pergantian pejabat seharusnya tidak hanya menjadi berita politik. Ia dapat menjadi cermin spiritual bagi kita semua. Sebab sesungguhnya setiap manusia memiliki “jabatan” sebagai seorang pemimpin.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menghancurkan anggapan bahwa pertanggungjawaban hanya milik pejabat negara. Tidak. Kita semua sedang memegang jabatan.


Ketika seseorang menerima jabatan, sesungguhnya ia tidak sekadar menerima ruang kerja, fasilitas negara, kewenangan atau tanda tangan. (Foto: Ist)
 

Bedanya, ada yang jabatannya diumumkan melalui media massa dan ada yang tidak. Ada yang memiliki kantor megah dan ada yang bekerja dari rumah. Ada yang memiliki ribuan bawahan dan ada yang hanya bertanggung jawab terhadap keluarganya. Tetapi di hadapan Allah, semuanya akan ditanya.

Dunia Berakhir, Catatan Tidak

Kita sering sibuk menjaga citra di hadapan manusia. Takut reputasi rusak. Takut jabatan hilang. Takut kehilangan kekuasaan. Takut tidak lagi dihormati. Tetapi pernahkah kita takut ketika catatan amal kita ternyata buruk?

Pernahkah kita gelisah ketika amanah yang kita pegang ternyata menjadi beban di akhirat? Inilah pertanyaan yang jauh lebih penting.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Al-Zalzalah [99]: 7–8)

Tidak ada yang benar-benar hilang. Kebaikan yang mungkin tidak dihargai manusia tetap tercatat. Kejujuran yang tidak mendapat tepuk tangan tetap tercatat. Pengabdian yang tidak masuk pemberitaan tetap tercatat.

Demikian pula penyalahgunaan amanah, ketidakadilan dan pengkhianatan yang mungkin tidak diketahui manusia, semuanya berada dalam pengetahuan Allah. Karena itu, jangan terlalu mencintai kursi.

Kursi hanya tempat kita duduk sementara. Yang akan menentukan nasib kita bukan berapa lama kita mendudukinya, tetapi bagaimana kita menggunakannya.

Pada akhirnya, semua jabatan akan selesai. Semua kekuasaan akan berpindah. Semua fasilitas akan ditinggalkan. Bahkan tubuh yang selama ini kita rawat pun akan kembali menjadi tanah. Yang tersisa hanyalah amal.

Begitulah dunia. Semuanya dipergilirkan. Dan pada saatnya nanti, kita semua akan berdiri di hadapan Allah, tanpa jabatan, tanpa pangkat, tanpa kekuasaan, hanya membawa catatan amal masing-masing. (*)


Jabatan menjadi tujuan. Kekayaan menjadi tujuan. Kekuasaan menjadi tujuan. Popularitas menjadi tujuan. Padahal semuanya hanyalah alat. (Foto: Ist) 
 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network