Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
KETIKA SAJADAH semakin sering dibentangkan, tetapi kejujuran semakin sulit dipertahankan; ketika ayat-ayat suci rajin dibaca, tetapi akhlak justru kian kehilangan makna. Ada sesuatu yang patut kita renungkan dalam-dalam.
Kita mungkin tidak pernah meninggalkan salat, rajin membaca Al-Qur'an, berpuasa setiap Ramadan, bahkan berkali-kali menunaikan umrah. Namun, di saat yang sama, kita masih mudah menyakiti hati orang lain, mengabaikan hak sesama, berdusta demi kepentingan pribadi, atau menggunakan jabatan untuk keuntungan sendiri.
Kita begitu takut melewatkan salat, tetapi mengapa tidak cukup takut ketika mengambil hak orang lain? Kita begitu khusyuk berdoa meminta rezeki yang berkah, tetapi mengapa masih ada yang tega memperoleh penghasilan dengan cara yang tidak halal?
Kita begitu bersemangat membicarakan surga, tetapi mengapa perilaku kita terkadang justru menjauh dari nilai-nilai yang mengantarkan ke sana? Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk memperbanyak ritual, tetapi lupa memperbaiki kualitas diri sebagai hamba Allah.
Pertanyaan ini memang tidak nyaman. Namun, bukankah nasihat yang paling kita butuhkan terkadang justru nasihat yang membuat hati terusik?
Ibadah Bukan Sekadar Menggugurkan Kewajiban
Islam tidak pernah mengajarkan bahwa ibadah cukup berhenti pada gerakan tubuh, bacaan lisan, atau rutinitas yang berulang. Ibadah seharusnya membentuk kesadaran, menghidupkan hati, dan memperbaiki perilaku manusia.
Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-'Ankabut [29]: 45)
Artinya, salat bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan agar kita merasa telah menggugurkan tugas kepada Allah. Salat seharusnya menjadi kekuatan moral yang menjaga kita ketika berhadapan dengan godaan dunia.
Ketika seseorang berdiri menghadap Allah, ia mengakui kebesaran-Nya. Ketika bersujud, ia merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta. Maka, bagaimana mungkin seseorang yang berkali-kali bersujud masih merasa pantas menyombongkan diri, merendahkan orang lain, atau menzalimi sesamanya?
Tentu, kita tidak boleh gegabah menghakimi kualitas ibadah seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak. Hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia. Namun, kita juga tidak boleh menggunakan alasan tersebut untuk menghindari evaluasi diri.
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
