Jadi Orang Pertama di Dunia, Elon Musk Kehilangan Rp3.154 Triliun

Saham Tesla turun sangat tajam mencapai 65 persen sepanjang tahun ini. Dia juga telah menjual banyak saham perusahaan pada 2022 untuk membantu menutupi akuisisi Twitter senilai 44 miliar dolar AS pada Oktober lalu. Akibatnya, menurut Bloomberg, Tesla bukan aset terbesarnya lagi.
Sementara kepemilikan Musk pada perusahaan luar angkasanya, Space Exploration Technologies (SpaceX) yang dipegangnya senilai 44,8 miliar dolar AS, sedangkan di Tesla sekitar 44 miliar dolar AS dan masih memiliki opsi saham sekitar 27,8 miliar dolar AS. Menurut pengajuan baru-baru ini, kepemilikan saham Musk di SpaceX sebesar 42,2 persen.
Kekayaan Musk melonjak signifikan selama pandemi Covid-19. Bahkan saham Tesla melampaui kapitalisasi pasar sebesar 1 triliun dolar AS untuk pertama kalinya pada Oktober tahun lalu. Tesla pun bergabung dengan perusahaan teknologi seperti Apple, Microsoft, Amazon.com, dan induk Google Alphabet, meskipun kendaraan listriknya hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan pasar mobil.
Sekarang, dominasi Tesla di mobil listrik dan fondasi valuasinya yang tinggi berada dalam bahaya karena para pesaing mengejar ketinggalan. Musk bahkan menawarkan kepada konsumen Amerika diskon 7.500 dolar AS untuk menerima pengiriman dua model dengan volume tertinggi sebelum akhir tahun. Selain itu, Tesla dilaporkan mengurangi produksi di pabriknya di Shanghai.
Sementara dengan tekanan pada Tesla yang semakin intensif, Musk disibukkan dengan Twitter. Dia juga melakukan banyak perubahan di platform media sosial yang justru menimbulkan kekacauan, seperti memecat karyawan, kemudian meminta mereka untuk kembali dan kebijakan lainnya.
(*)Editor : Syahrir Rasyid