HIKMAH JUMAT : Ujian Sebenarnya Dimulai Setelah Ramadhan
Menjaga istiqamah pasca Ramadhan tidaklah mudah. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Yang pertama adalah hilangnya lingkungan yang mendukung. Selama Ramadhan, suasana ibadah sangat terasa: adzan lebih hidup, kajian marak, dan lingkungan mendorong untuk berbuat baik. Setelahnya, suasana ini memudar.
Yang kedua adalah kembali pada rutinitas duniawi. Kesibukan pekerjaan, bisnis, politik, kuliah, sekolah, dan aktivitas duniawi lainnya seringkali membuat kita lalai dari ibadah yang sebelumnya rutin dilakukan.
Yang ketiga adalah adanya godaan syaitan yang kembali bebas. Baginda Rasulullah SAW bersabda bahwa di bulan Ramadhan, syaitan dibelenggu. Setelah Ramadhan, mereka kembali menggoda manusia dengan lebih leluasa.
Yang terakhir adalah kualitas iman yang fluktuatif. Iman manusia memang naik turun. Tanpa usaha menjaga, iman akan cenderung melemah. Untuk itu, diperlukan strategi agar iman tetap naik dan istiqamah pun tetap terjaga.
Agar semangat Ramadhan tidak padam begitu saja, berikut beberapa langkah praktis untuk menjaga istiqomah.
Yang pertama adalah menjaga shalat lima waktu secara berjamaah. Shalat adalah fondasi utama agama. Jika shalat terjaga, maka amalan lainnya akan mengikuti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar…” (QS. Al-Ankabut [29]: 45).
Yang kedua adalah melanjutkan interaksi dengan Al-Qur’an. Jangan biarkan Al-Qur’an hanya hidup di bulan Ramadhan. Jadikan tilawah sebagai rutinitas harian, meskipun hanya beberapa ayat.
Yang ketiga adalah membiasakan puasa sunnah. Puasa enam hari di bulan Syawal menjadi salah satu cara menjaga semangat Ramadhan. Selain enam hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis dan ayyamul bidh juga sangat dianjurkan.
Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim).
Selanjutnya yang keempat adalah berkumpul dengan orang shalih. Lingkungan sangat mempengaruhi keimanan. Carilah teman yang mengingatkan kita kepada Allah, bukan yang menjauhkan. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang itu tergantung agama temannya…” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Editor : Syahrir Rasyid