HIKMAH JUMAT : Ujian Sebenarnya Dimulai Setelah Ramadhan
Strategi yang kelima adalah menghadiri majelis ilmu karena ilmu adalah bahan bakar iman. Tanpa ilmu, semangat akan mudah padam.
Yang terakhir adalah memperbanyak do’a meminta keistiqamahan. Hati manusia berada di tangan Allah. Baginda Rasulullah SAW sering berdoa: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi). Doa ini menunjukkan bahwa istiqomah adalah karunia yang harus diminta.
Di zaman sekarang, tantangan istiqamah semakin kompleks. Media sosial bisa menjadi ladang pahala, tetapi juga sumber kelalaian. Konten negatif, waktu yang terbuang, dan distraksi tanpa batas, bisa menggerus keimanan.
Karena itu, penting untuk mengikuti akun yang mengingatkan kepada Allah, membatasi waktu penggunaan media sosial, dan menggunakan teknologi untuk kebaikan (kajian online, tilawah digital, dan lain-lain). Istiqomah di era digital bukan berarti meninggalkan teknologi, tetapi mengendalikannya.
Salah satu kesalahan terbesar setelah Ramadhan adalah merasa sudah cukup baik. Padahal, istiqamah membutuhkan kerendahan hati dan kewaspadaan. Merasa aman dari dosa justru bisa menjadi awal kehancuran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka janganlah kamu merasa dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm [53]: 32).
Ketahuilah bahwa istiqamah adalah perjalanan, bukan tujuan sesaat. Ramadhan bukan garis finish, melainkan titik awal perubahan. Jika kita berhasil menjadi lebih baik di bulan Ramadhan, maka tugas berikutnya adalah mempertahankannya. Ingat, ujian sebenarnya justru dimulai setelahnya.
Istiqamah bukan tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang selalu bangkit setiap kali terjatuh. Allah tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kesungguhan. Jangan biarkan semangat ibadah hanya menjadi kenangan tahunan.
Jadilah hamba Allah yang konsisten dalam kebaikan, di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah hingga akhir hayat. (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid