get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Allah Tidak Pernah Salah

HIKMAH JUMAT : Seni Melepaskan: Transformasi Spiritual dan Sosial di Balik Syiar Qurban

Jum'at, 08 Mei 2026 | 05:01 WIB
header img
Jangan sampai ibadah qurban berubah menjadi ajang pamer (riya) tentang siapa yang mampu membeli hewan qurban paling berat atau ras yang paling mahal. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

SECARA FITRAH manusia memiliki kecenderungan untuk menggenggam erat apa yang dianggap sebagai miliknya. Namun, Al-Qur'an mengingatkan kita bahwa pada hakikat kepemilikan yang sebenarnya: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi...” (QS. Al-Baqarah [2]: 284)

Penderitaan spiritual seringkali muncul karena kita merasa "memiliki" secara mutlak, sehingga muncul rasa berat untuk berbagi. Ibadah Qurban hadir sebagai madrasah tahunan untuk melatih “Seni Melepaskan” sebagai sebuah keterampilan hati untuk melepas yang fana demi meraih yang baqa.

Akar Filosofis: Belajar dari Sang Maestro

Kisah Nabi Ibrahim AS adalah sebuah drama ketauhidan yang melampaui logika kemanusiaan biasa. Ibrahim adalah sosok yang sepanjang hidupnya dilatih untuk "melepaskan".

Beliau harus melepaskan kenyamanan negeri asalnya untuk berhijrah, melepaskan egonya saat berhadapan dengan ayahnya yang pembuat berhala, hingga puncaknya, melepaskan keterikatan emosional paling dalam terhadap putra yang dinantinya selama puluhan tahun, Ismail AS.

Dalam Al Qur’an surat Ash-Shaffat [37] ayat ke-102, kita dapat melihat sebuah dialog yang sangat demokratis sekaligus penuh ketundukan. Nabi Ibrahim tidak memaksa, ia bertanya: "Maka pikirkanlah apa pendapatmu!"

Dan Sang Anak yang bernama Ismail itu, dengan kematangan tauhid yang luar biasa, menjawab: "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu."

Di titik ini, Qurban sebenarnya adalah sebuah ujian "detachment" atau pelepasan. Allah tidak benar-benar menginginkan nyawa Ismail; Allah menginginkan "Ismail-Ismail" yang bertahta di hati Ibrahim agar turun tahta, sehingga hanya Allah yang menjadi satu-satunya pemilik cinta tertinggi.

Inilah esensi dari seni melepaskan: memiliki sesuatu tanpa membiarkan sesuatu itu memiliki hati kita.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
 

Qurban dan Purifikasi Tauhid

Dalam konteks dan semangat purifikasi (pemurnian) tauhid, ibadah qurban harus ditarik kembali pada makna asalnya agar tidak terjebak dalam sekadar perayaan budaya. Seringkali, kita melihat qurban berubah menjadi ajang pamer (riya) tentang siapa yang mampu membeli hewan qurban paling berat atau ras yang paling mahal.

Namun, Al-Qur'an dengan tegas memberikan batasan dalam surat Al-Hajj [22] ayat ke-37: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.”

Seni melepaskan di sini berarti melepaskan keinginan untuk dipuji (sum'ah) dan melepaskan keangkuhan status sosial. Qurban adalah latihan untuk menjadi "anonim" di hadapan Allah.

Ketika seseorang mengeluarkan harta terbaiknya secara ikhlas, ia sebenarnya sedang melakukan "detoksifikasi" jiwa dari penyakit wahn, yakni cinta dunia yang berlebihan dan takut mati.

Dengan menyembelih hewan, kita secara simbolis menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri seperti loba, rakus, dan mementingkan diri sendiri.

Dimensi Sosial: Dari Ritual Menuju Gerakan Al-Ma’un

Melalui Teologi Al-Ma’un yang diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan, memandang bahwa ibadah ritual yang tidak berdampak pada keadilan sosial adalah ibadah yang hampa. Seni melepaskan dalam qurban harus bertransformasi dari kesalehan individu menjadi kesalehan sosial.

Selama ini, kita sering melihat penumpukan daging qurban di kota-kota besar, sementara masyarakat di pelosok atau daerah tertinggal jarang sekali mencicipi protein hewani. Di sinilah "Seni Melepaskan" diuji dalam skala yang lebih besar. Ummat Islam didorong untuk berani melepaskan ego kelompok atau ego kewilayahan.

Etika Ihsan dan Profesionalisme

Melepaskan juga menuntut cara yang terhormat. Baginda Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (baik) atas segala sesuatu... Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik.”

Seni melepaskan di sini mencakup pelepasan terhadap cara-cara tradisional yang mungkin kurang memperhatikan kesejahteraan hewan (animal welfare) atau kebersihan lingkungan.

Mengelola qurban secara profesional, mulai dari pemilihan hewan yang sehat, teknik penyembelihan yang tidak menyiksa, hingga manajemen limbah yang bersih, adalah bentuk perwujudan iman. Kita melepaskan sikap "asal jalan" atau "yang penting sah" menuju sikap yang ihsan dan bermartabat.


Qurban adalah tentang transformasi. Kita mulai dengan menyembelih hewan, namun tujuannya adalah "menyembelih" keakuan kita. (Foto: Ist)
 

Psikologi Keikhlasan: Mengapa Kita Harus Melepas?

Secara psikologis, manusia yang tidak mampu melepaskan akan selalu dibayangi oleh kecemasan. Ketakutan akan kehilangan harta atau jabatan seringkali membuat hidup tidak tenang. Ibadah qurban adalah terapi psikologis untuk melatih otot-otot keikhlasan kita.

Ikhlas bukan berarti kita tidak merasa kehilangan. Nabi Ibrahim AS pasti merasa sedih, namun ia memiliki keyakinan yang lebih besar bahwa perintah Allah adalah yang terbaik.

Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad memberikan janji yang sangat menenangkan: “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ’Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik bagimu.”

Pelepasan yang didasari lillah (karena Allah) tidak akan pernah menyisakan kekosongan. Sebaliknya, ia akan mengisi ruang hati kita dengan ketenangan (sakinah) dan kepuasan batin (qana’ah). Orang yang berqurban dengan benar akan merasakan "ringan", karena ia telah menitipkan hartanya pada "tabungan" yang tidak mungkin hilang apalagi bangkrut.

Pada akhirnya, qurban adalah tentang transformasi. Kita mulai dengan menyembelih hewan, namun tujuannya adalah "menyembelih" keakuan kita. Seni melepaskan mengajarkan kita bahwa hidup ini adalah tentang memberi dan mengabdi.

Mari kita jadikan momentum Idul Adha tahun ini sebagai ajang audit diri. Mari kita identifikasi "Ismail-Ismail" dalam diri kita, apakah itu harta yang membuat kita kikir, jabatan yang membuat kita sombong, atau opini yang membuat kita keras kepala.

Melepaskan memang tidak mudah, namun di balik setiap pelepasan demi ketaatan, selalu ada kemuliaan yang menanti. Sebagaimana Nabi Ibrahim AS yang namanya tetap harum dan diberkati dalam setiap shalawat kita hingga hari ini.

Mari berqurban dan berbagi sebagai bentuk melepaskan keakuan yang ada pada diri kita. Semoga kita pun mendapatkan bagian dari keberkahan itu dengan berani melepaskan apa yang paling kita cintai demi Dia yang Maha Mencintai. (*)


Mari kita jadikan momentum Idul Adha tahun ini sebagai ajang audit diri. (Foto: Ist)
 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut