HIKMAH JUMAT : Dzulhijjah, Saat Dunia Mengajarkan Memiliki, Islam Mengajarkan Melepaskan
Pada musim haji, jutaan manusia berkumpul dengan pakaian yang sama. Tidak ada perbedaan antara pejabat dan rakyat biasa, antara orang kaya dan orang miskin. Semuanya mengenakan ihram yang sederhana. Mengapa?
Karena Allah ingin mengingatkan bahwa pada akhirnya manusia akan meninggalkan semua atribut dunia. Jabatan akan ditinggalkan. Rekening akan ditinggalkan. Rumah mewah akan ditinggalkan. Popularitas akan ditinggalkan.
Yang tersisa hanyalah amal. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Anak Adam berkata: hartaku, hartaku. Padahal hartamu hanyalah apa yang engkau makan lalu habis, yang engkau pakai lalu usang, atau yang engkau sedekahkan lalu menjadi simpananmu." (HR. Muslim)
Dalam perspektif ini, qurban dan haji sesungguhnya mengajarkan satu pesan yang sama: dunia bukan tujuan akhir.
Tantangan qurban hari ini mungkin berbeda dengan zaman Nabi Ibrahim. Kita tidak diminta menyembelih anak. Tetapi mungkin kita diminta menyembelih kesombongan yang dipamerkan melalui media sosial.
Menyembelih sifat riya yang haus pengakuan. Menyembelih kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain. Menyembelih kecanduan dunia digital yang membuat hati jauh dari Allah.
Di era algoritma, manusia sering lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan keberkahan. Lebih khawatir kehilangan engagement daripada kehilangan hidayah. Lebih sibuk mempercantik citra daripada memperbaiki jiwa.
Padahal yang dinilai Allah bukanlah seberapa viral kita di dunia, tetapi seberapa ikhlas kita di hadapan-Nya.
Dzulhijjah mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari memiliki lebih banyak, tetapi sering kali muncul ketika kita mampu melepaskan sesuatu karena Allah.
Melepaskan dendam. Melepaskan keserakahan. Melepaskan kemaksiatan. Melepaskan kebiasaan buruk. Melepaskan segala sesuatu yang menghalangi kedekatan kita dengan-Nya.
Inilah makna terdalam qurban. Bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih "berhala-berhala modern" yang diam-diam bersemayam dalam hati.
Karena pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang diajukan Dzulhijjah kepada setiap Muslim bukanlah: "Apa yang sudah kamu miliki?" Melainkan: "Apa yang bersedia kamu lepaskan demi Allah?"
Jika Nabi Ibrahim mampu mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya karena ketaatan, maka sudah sepatutnya kita bertanya kepada diri sendiri: adakah sesuatu dalam hidup ini yang lebih kita cintai daripada Allah?
Di situlah letak ukuran ketakwaan yang sesungguhnya. (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid