get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Menghentikan Kelalaian

HIKMAH JUMAT : Muharram Mengetuk Pintu Hati: Masih Adakah Ruang untuk Hijrah?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 05:01 WIB
header img
Muharram seharusnya menjadi momen muhasabah. Sudahkah shalat kita lebih baik dibanding tahun lalu? Sudahkah Al-Qur'an lebih sering kita baca? (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

MUHARRAM KEMBALI HADIR. Tahun Hijriyah berganti, lembaran waktu terus berjalan, dan usia kita semakin berkurang. Pergantian tahun ini bukan sekadar perubahan angka dalam kalender Islam, melainkan momentum untuk berhenti sejenak, merenung, dan bertanya kepada diri sendiri: masihkah ada ruang di hati kita untuk berhijrah?

Banyak orang menyambut tahun baru dengan harapan dan resolusi. Namun bagi seorang Muslim, Muharram membawa pesan yang lebih dalam. Ia mengingatkan bahwa hidup di dunia hanyalah perjalanan sementara.

Setiap tahun yang berlalu adalah satu langkah yang membawa kita semakin dekat kepada perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya:

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran [3]: 133)

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan bukanlah tentang siapa yang paling lama hidup, melainkan siapa yang paling cepat kembali kepada Allah dengan hati yang bersih dan amal yang saleh.

Muharram juga mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Baginda Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan dari kegelapan menuju cahaya, dari kesyirikan menuju tauhid, dari kemaksiatan menuju ketaatan.

Sayangnya, banyak di antara kita yang mengagumi kisah hijrah Rasulullah SAW, tetapi enggan melakukan hijrah dalam kehidupan sendiri. Kita mengetahui dosa yang sering dilakukan, tetapi menundanya untuk ditinggalkan.

Kita memahami kewajiban yang harus dikerjakan, tetapi menunggu waktu yang dianggap tepat. Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah esok hari masih menjadi miliknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Muharram seharusnya menjadi momen muhasabah. Sudahkah shalat kita lebih baik dibanding tahun lalu? Sudahkah Al-Qur'an lebih sering kita baca? Sudahkah hubungan dengan orang tua, keluarga, dan sesama manusia semakin baik? Atau justru dosa-dosa yang sama masih kita pelihara hingga hari ini?


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
 

Sering kali hati menjadi keras karena terlalu lama berdekatan dengan maksiat. Kita terbiasa menunda taubat hingga tidak lagi merasa bersalah ketika berbuat dosa. Padahal Baginda Rasulullah SAW mengingatkan bahwa dosa meninggalkan noda hitam dalam hati.

Jika dosa dan maksiat terus dilakukan tanpa taubat, hati akan tertutup sehingga sulit menerima kebenaran. Karena itu, hijrah yang paling penting adalah hijrah hati. Hati yang sebelumnya lalai menjadi ingat kepada Allah.

Hati yang sebelumnya sombong menjadi rendah hati. Hati yang sebelumnya mencintai dunia secara berlebihan menjadi lebih mencintai akhirat. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat. Setiap kali seseorang meninggalkan kebiasaan buruk karena Allah, ia sedang berhijrah.

Ketika seseorang meninggalkan riba, meninggalkan ghibah, meninggalkan kebiasaan menunda shalat, atau meninggalkan dosa yang selama ini mengikat dirinya, maka sejatinya ia sedang menapaki jalan hijrah.

Selain itu, Muharram juga merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram bukan hanya waktu untuk merenung, tetapi juga kesempatan memperbanyak amal saleh. Memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, berzikir, dan memperbaiki hubungan dengan sesama adalah langkah-langkah nyata untuk memulai tahun baru dengan keberkahan.

Namun yang paling penting dari semua itu adalah taubat. Tidak ada hijrah tanpa taubat. Sebab hijrah adalah perjalanan kembali kepada Allah, dan pintu perjalanan itu bernama taubat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur [24]: 31)

Betapa banyak dosa yang telah kita lakukan selama setahun terakhir. Betapa banyak kesempatan beramal yang telah kita sia-siakan. Namun kabar baiknya, rahmat Allah selalu lebih luas daripada dosa-dosa kita.


Muharram seharusnya menjadi momen muhasabah. Sudahkah shalat kita lebih baik dibanding tahun lalu? Sudahkah Al-Qur'an lebih sering kita baca? (Foto: Ist)
 

Selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat, pintu taubat masih terbuka. Karena itu, ketika Muharram mengetuk pintu hati, jangan biarkan ia berlalu tanpa makna.

Sambutlah dengan muhasabah, taubat, dan tekad untuk menjadi lebih baik. Jangan hanya mengganti kalender, tetapi gantilah juga kebiasaan yang menjauhkan diri dari Allah.

Mungkin kita masih diberi kesempatan bertemu Muharram tahun ini. Namun tidak ada jaminan bahwa kita akan bertemu Muharram berikutnya. Oleh sebab itu, jangan menunggu hari esok untuk berhijrah.

Mulailah hari ini, mulai dari langkah yang paling sederhana, dan mulai dari hati yang tulus ingin kembali kepada Allah. Tak kan ada langkah yang berjuta-juta jumlahnya, jika tidak dimulai dari langkah pertama.

Oleh karena itu, jadikan Muharram ini sebagai langkah pertama bagi kita untuk kembali kepada Allah. Memperbaiki hidup dan kehidupan sesuai dengan tuntunan dan ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tauladan terbaik dari Baginda Rasulullah SAW.

Semoga Muharram kali ini menjadi titik balik kehidupan kita. Menjadi awal hijrah yang sesungguhnya, hijrah dari dosa menuju taubat, dari kelalaian menuju ketaatan, dan dari cinta dunia yang berlebihan menuju kerinduan akan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. (*)


Mulailah hari ini, mulai dari langkah yang paling sederhana, misalnya bersedekah, mengisi kotak amal dan mulai dari hati yang tulus ingin kembali kepada Allah. (Foto: Ist)
 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut