HIKMAH JUMAT : Kenapa Hidup Perlu Ujian?
Sebagian orang bertanya, "Kalau Allah mencintai hamba-Nya, mengapa Dia masih memberikan ujian?" Jawabannya dijelaskan oleh Baginda Rasulullah SAW:
"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya semakin berat. Jika agamanya lemah, maka ia diuji sesuai kadar agamanya." (HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini mengubah cara pandang kita terhadap musibah. Beratnya ujian bukan selalu pertanda murka Allah. Bisa jadi justru itu adalah tanda bahwa Allah sedang meninggikan derajat seorang hamba. Lihatlah para kekasih Allah, mereka saja diuji, mengapa kita berharap hidup selalu mulus?
Bukankah Nabi Ayyub 'alaihissalam diuji dengan penyakit yang sangat lama? Nabi Ya'qub 'alaihissalam diuji dengan kehilangan putra tercinta hingga matanya memutih karena menangis.
Nabi Yusuf 'alaihissalam diuji dengan pengkhianatan saudara-saudaranya, fitnah, dan penjara. Bahkan Baginda Rasulullah SAW kehilangan ayah sebelum lahir, ibu saat kecil, kakek, paman tercinta, istri tercinta Khadijah RA, serta beberapa putra-putrinya.
Di balik setiap kesulitan, terdapat kasih sayang Allah yang sering kali tidak kita sadari. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal itu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa luar biasanya rahmat Allah. Bahkan rasa sakit akibat tertusuk duri pun dapat menjadi sebab penghapusan dosa, apalagi musibah yang lebih besar jika dihadapi dengan sabar dan ridha.
Tidak sedikit orang yang justru semakin dekat kepada Allah setelah mengalami musibah. Sebaliknya, banyak pula yang lalai ketika hidupnya dipenuhi kenyamanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Dan sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat sebelum engkau, lalu Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan penderitaan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri." (QS. Al-An'am [6]: 42)
Musibah sering kali menjadi "alarm langit" yang membangunkan manusia dari kelalaiannya. Ketika semua pintu dunia terasa tertutup, saat itulah manusia mulai mengetuk pintu langit dengan doa yang tulus.

Editor : Syahrir Rasyid