HIKMAH JUMAT : Kenapa Hidup Perlu Ujian?
Kesalahan yang sering dilakukan adalah mengukur kebahagiaan berdasarkan sedikit atau banyaknya ujian. Padahal ukuran keberhasilan seorang mukmin bukanlah bebas dari masalah, tetapi mampu tetap taat di tengah masalah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh [94]: 5–6)
Pengulangan ayat ini bukan tanpa hikmah. Para ulama menjelaskan bahwa satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kemudahan yang Allah janjikan. Karena itu, tidak ada malam yang selamanya gelap. Tidak ada hujan yang turun tanpa berhenti. Tidak ada luka yang tidak bisa sembuh jika Allah menghendaki.
Islam mengajarkan tiga sikap utama ketika menghadapi ujian. Pertama, bersabar, yaitu menahan hati dari protes kepada takdir Allah, menjaga lisan dari keluhan yang melampaui batas, dan menjaga anggota tubuh dari perbuatan yang dimurkai-Nya.
Kedua, bertawakal, yakni terus berusaha sembari menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, melainkan menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah semata.
Ketiga, berhusnuzan kepada Allah. Seorang mukmin yakin bahwa di balik setiap ketentuan Allah terdapat hikmah, meskipun saat ini ia belum mampu memahaminya. Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya. Dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin.” (HR. Muslim)
Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang bagaimana menghindari ujian, tetapi bagaimana lulus darinya. Mungkin hari ini kita sedang diuji dengan kesedihan, kegagalan, kehilangan, atau ketidakpastian. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah meninggalkan kita.
Bisa jadi justru saat itulah Allah sedang paling dekat, sedang membersihkan dosa, menguatkan iman, mengangkat derajat, dan menyiapkan kebaikan yang belum sanggup kita lihat. Dunia hanyalah ruang ujian, sedangkan akhirat adalah tempat menerima hasilnya.
Ujian bukanlah tanda bahwa Allah berhenti mencintai kita. Sering kali, ujian justru merupakan cara Allah mendidik, memurnikan, dan mempersiapkan hamba-Nya untuk memperoleh kemuliaan yang tidak mungkin diraih tanpa kesabaran. (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid