HIKMAH JUMAT : Ketika Jabatan Menjadi Jalan Menuju Neraka
Lebih keras lagi, Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah memimpin rakyat, lalu ia meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ancaman ini seharusnya cukup membuat setiap pemegang jabatan gemetar. Sebab tidak ada satu pun fasilitas negara, uang hasil korupsi, atau kekuasaan yang dapat menyelamatkan seseorang dari pengadilan Allah.
Hari ini bangsa Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pejabat yang cerdas. Kita membutuhkan pemimpin yang amanah. Kita membutuhkan aparatur yang takut mengambil yang bukan haknya walaupun hanya satu rupiah.
Kita membutuhkan budaya malu terhadap korupsi, bukan sekadar takut tertangkap. Pemberantasan korupsi tentu memerlukan sistem hukum yang kuat, pengawasan yang efektif, dan penegakan hukum yang adil. Namun semua itu tidak akan pernah cukup tanpa revolusi moral dan akhlak.
Selama jabatan dipandang sebagai kesempatan memperkaya diri, korupsi akan terus mencari jalan baru. Tetapi ketika jabatan dipahami sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, maka integritas akan tumbuh dari dalam diri.
Pada akhirnya, setiap jabatan memiliki masa akhir. Masa kekuasaan akan berakhir, masa pensiun akan tiba, dan suatu hari setiap manusia akan meninggalkan dunia ini. Yang tersisa bukanlah besarnya rekening atau megahnya rumah, melainkan catatan amal yang akan dibuka di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena itu, siapa pun yang hari ini memegang amanah hendaknya merenungkan satu pertanyaan sederhana: apakah jabatan yang dimiliki sedang menjadi jalan menuju ridha Allah atau justru perlahan berubah menjadi jalan menuju neraka?
Pertanyaan itulah yang seharusnya lebih ditakuti daripada audit, pengawasan, hukuman penjara, atau bahkan hukuman mati sekalipun. Sebab tidak ada hukuman yang lebih berat daripada penyesalan ketika berdiri di hadapan Allah dengan membawa amanah yang telah dikhianati. (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid