Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 316 SPPG di Tangerang Hentikan Distribusi MBG, Buntut PJJ Imbas Abu Anak Krakatau
Advertisement . Scroll to see content

HIKMAH JUMAT : Ketika Bencana Tak Kunjung Usai

Jum'at, 11 September 2026 | 05:02 WIB
  • author Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
HIKMAH JUMAT : Ketika Bencana Tak Kunjung Usai
Belum selesai duka akibat gempa Flores, masyarakat kembali menghadapi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Foto: Ist)

Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

INDONESIA KEMBALI diuji. Belum selesai kita berbicara tentang satu bencana, bencana lain datang. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di sejumlah wilayah. Gempa bumi mengguncang Flores. Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dan bahkan mengganggu penerbangan.

Sepanjang 2026, negeri ini seolah terus diingatkan bahwa manusia hidup di atas bumi yang tidak pernah benar-benar diam. Salah satu yang paling mengguncang adalah gempa bumi Magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026.

Belum selesai duka akibat gempa Flores, masyarakat kembali menghadapi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sebaran abu bahkan menyebabkan empat bandara yaitu Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto, ditutup sementara demi keselamatan penerbangan.

Di sisi lain, karhutla masih menjadi persoalan serius. Pada awal September, BNPB menyebut karhutla mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah dan penanganannya diperkuat di enam provinsi prioritas: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.

Pertanyaannya adalah: Apakah semua ini hanya rangkaian fenomena alam? Ataukah ada sesuatu yang harus kita renungkan tentang hubungan manusia dengan Allah dan dengan lingkungan?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Bencana bisa menjadi ujian. Bagi korban, ia adalah ujian kesabaran. Bagi relawan, ia menjadi ujian kepedulian. Bagi pemerintah, ia menjadi ujian amanah. Dan bagi kita semua, ia menjadi ujian kesadaran.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka jangan menghakimi korban. Yang harus kita lakukan adalah menolong sekaligus mengambil pelajaran. Ada peringatan yang tidak boleh diabaikan. Di sinilah manusia harus berani bercermin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum [30]: 41)

Ayat ini sangat relevan untuk membaca krisis lingkungan. Bukan berarti setiap kebakaran pasti akibat dosa tertentu. Bukan pula berarti setiap banjir merupakan hukuman langsung dari Allah.

Namun manusia harus jujur bahwa perilaku manusia dapat memperbesar risiko bencana. Hutan yang dibuka tanpa kendali mengurangi daya dukung ekosistem. Lahan yang dibakar memperbesar risiko kebakaran.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : Dok Pribadi)

Ketika Hutan Menjadi Asap

Karhutla menjadi salah satu wajah paling nyata dari persoalan lingkungan Indonesia pada 2026. Pada awal September, BNPB menyebut karhutla masih mendominasi penanganan bencana di sejumlah wilayah. Bahkan pemerintah memperkuat penanganan di enam provinsi prioritas.

Ini bukan sekadar persoalan api. Karhutla membawa persoalan yang jauh lebih luas: kualitas udara, kesehatan masyarakat, kerusakan ekosistem, gangguan aktivitas ekonomi, serta ancaman terhadap keanekaragaman hayati.

Yang lebih menyedihkan, sebagian kebakaran lahan berkaitan dengan aktivitas manusia. BNPB, misalnya, melaporkan kebakaran lahan di Klaten pada akhir Agustus yang dipicu oleh pembakaran lahan dan sampah oleh warga.

Di sinilah pesan Al-Qur'an terasa begitu keras. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik.” (QS. Al-A'raf [7]: 56)

Alam Mengingatkan Keterbatasan Manusia

Beberapa hari lalu, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya. Erupsi menerus disertai dentuman dan lava fountain. Berdasarkan pantauan BNPB, abu vulkanik mencapai ketinggian sekitar 14,6 kilometer. Dampaknya terasa sampai sektor transportasi udara; empat bandara sempat ditutup sementara.

Di sinilah kita belajar tentang pentingnya kesiapsiagaan. Allah menciptakan alam dengan hukum-hukumnya. Manusia tidak mungkin menghentikan gunung api. Tidak mungkin memerintah gempa agar tidak terjadi. Tidak mungkin melarang hujan turun.

Tetapi manusia dapat membangun sistem peringatan dini, menyiapkan jalur evakuasi, membangun infrastruktur yang lebih aman, meningkatkan literasi kebencanaan, dan tidak tinggal sembarangan di kawasan berisiko tinggi. Karena tawakal bukan berarti pasrah tanpa persiapan. Tawakal harus berjalan bersama ikhtiar.


Bagi pemerintah, ia menjadi ujian amanah. Dan bagi kita semua, ia menjadi ujian kesadaran. (Foto: Ist)
 

Bencana dan Amanah sebagai Khalifah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Menjadi khalifah bukan berarti manusia bebas mengeksploitasi bumi. Khalifah berarti amanah.

Maka hutan bukan sekadar kayu. Sungai bukan sekadar saluran air. Laut bukan sekadar sumber ikan. Tanah bukan sekadar objek investasi. Alam adalah bagian dari amanah Allah. Baginda Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini seharusnya menjadi etika lingkungan. Jangan membuang sampah yang akhirnya menyumbat sungai. Jangan membakar lahan yang akhirnya menghasilkan asap dan merusak ekosistem. Jangan mengeksploitasi alam tanpa batas hanya demi keuntungan sesaat. Jangan membangun tanpa menghitung keselamatan manusia.

Sebab keuntungan yang diperoleh hari ini bisa berubah menjadi kerugian yang harus dibayar generasi mendatang.

Saatnya Muhasabah Ekologis

Mungkin kita tidak bisa menghentikan gempa. Mungkin kita tidak bisa menghentikan erupsi. Tetapi kita bisa mengurangi kerentanan. Kita bisa menjaga hutan. Kita bisa mengelola sampah.

Kita bisa menghentikan pembakaran lahan sembarangan. Kita bisa memperbaiki tata ruang. Kita bisa membangun rumah dan fasilitas publik yang lebih tahan bencana. Kita bisa memperkuat sistem peringatan dini. Dan kita bisa mendidik generasi muda agar memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman dan amanah.

Maka jangan hanya bertanya: “Mengapa Allah menurunkan begitu banyak bencana?” Tanyakan pula: “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada kita melalui semua ini?”

Gempa Flores mengajarkan kerendahan hati. Anak Krakatau mengajarkan keterbatasan manusia. Karhutla mengingatkan bahaya keserakahan dan kelalaian. Seluruh rangkaian bencana itu mengingatkan kita bahwa manusia bukan penguasa mutlak bumi. Kita hanyalah khalifah yang sedang menjalankan amanah.

Maka mungkin inilah saatnya kita tidak hanya melakukan mitigasi bencana, tetapi juga mitigasi keserakahan. Tidak hanya membangun tanggul, tetapi juga membangun kesadaran. Tidak hanya menanam kembali hutan, tetapi juga menanam kembali akhlak.

Sebab bencana tidak selalu dapat kita cegah. Tetapi kelalaian bisa kita cegah. Kerusakan lingkungan bisa kita kurangi. Keserakahan bisa kita lawan, dan amanah sebagai khalifah bisa kita tunaikan. (*)


Karhutla menjadi salah satu wajah paling nyata dari persoalan lingkungan Indonesia pada 2026. (Foto: Ist)

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor: Syahrir Rasyid

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut