HIKMAH JUMAT : Mau Dibawa Kemana Sisa Umur Kita?
Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
ADA SAAT-SAAT tertentu ketika kita tiba-tiba terdiam. Bukan karena tidak punya kesibukan, tetapi karena hati seperti sedang mengajukan pertanyaan yang selama ini sengaja kita hindari:
“Sebenarnya, mau dibawa ke mana sisa umur kita?”
Pertanyaan itu mungkin muncul ketika melihat rambut mulai memutih. Ketika teman sebaya satu per satu pergi untuk selamanya. Ketika mendengar kabar kematian seseorang yang kemarin masih sempat bercanda bersama kita.
Atau, ketika tanpa sadar kita menghitung usia dan tersadar: ternyata sebagian besar perjalanan hidup sudah dilewati. Di situlah konflik batin itu muncul.
Di satu sisi, kita masih ingin menikmati dunia. Masih ingin mengejar target, memperbanyak harta, memperbaiki rumah, membeli sesuatu yang selama ini diinginkan, menikmati perjalanan, membahagiakan keluarga, dan merasakan berbagai kesenangan hidup.
Tetapi di sisi lain, ada suara kecil di dalam hati yang terus mengingatkan: “Sampai kapan?” Sampai kapan kita akan terus mengejar dunia? Sampai kapan kita menunda taubat? Sampai kapan shalat hanya dikerjakan ketika sempat? Sampai kapan Al-Qur’an hanya menjadi sesuatu yang kita simpan rapi di rak?
Sampai kapan kita berkata, “Nanti saja kalau sudah tua saya akan lebih dekat kepada Allah”?
Yang membuat pertanyaan itu semakin berat adalah kenyataan bahwa kita tidak pernah tahu kapan waktu kita benar-benar habis. Kita membuat rencana untuk lima tahun ke depan seolah-olah kita pasti masih ada.
Kita menabung untuk masa tua seolah-olah kita pasti sampai di sana. Kita merancang banyak keinginan seolah-olah Allah telah menjamin umur kita panjang. Padahal, tidak ada seorang pun yang menerima surat pemberitahuan tentang kapan hari terakhirnya.
Hari ini kita masih bisa tertawa. Besok mungkin orang lain yang menangisi kepergian kita. Hari ini kita masih bisa memegang ponsel. Besok mungkin tangan kita sudah terlipat di dalam kain kafan.
Hari ini kita masih bisa bersujud dan memohon ampun. Besok mungkin orang lain yang menyalatkan jenazah kita. Dan yang paling mengkhawatirkan: bagaimana jika ternyata selama ini kita terlalu sibuk mempersiapkan kehidupan yang panjang, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan yang kekal?

Editor: Syahrir Rasyid