Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : HIKMAH JUMAT : Sabar Saja Tidak Cukup
Advertisement . Scroll to see content

HIKMAH JUMAT : Menitipkan Masa Tua Kepada Pemuda

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 05:03 WIB
  • author Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
HIKMAH JUMAT : Menitipkan Masa Tua Kepada Pemuda
Menitipkan masa tua kepada para pemuda berarti menyiapkan generasi yang bukan hanya mampu meneruskan kehidupan, tetapi juga menjaga kebaikan yang kita perjuangkan. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

PERNAHKAH KITA membayangkan masa tua sendiri? Ketika rambut memutih, tenaga melemah, dan langkah tak lagi sekuat hari ini, dunia akan terus berjalan. Anak-anak yang dahulu kita gendong akan mengambil alih berbagai tanggung jawab.

Mereka akan menjadi pemimpin, pengambil keputusan, dan penentu wajah masyarakat. Merekalah generasi yang kepadanya kita menitipkan masa tua, masa depan bangsa, bahkan keberlanjutan nilai-nilai kehidupan.

Menitipkan masa tua bukan sekadar berharap anak merawat kita ketika tubuh tak lagi kuat. Maknanya jauh lebih luas: kita mempercayakan masa depan kehidupan kepada generasi yang hari ini sedang kita besarkan.

Ketika kita menua, merekalah yang akan melanjutkan perjuangan, menjaga nilai-nilai kebaikan, dan menentukan seperti apa masyarakat yang kita tinggalkan. Namun, di sinilah konflik batin itu muncul.

Kita begitu takut anak gagal meraih gelar, kehilangan pekerjaan, atau kalah bersaing. Kita rela bekerja sampai larut malam demi masa depan mereka. Namun, apakah kita sama gelisahnya ketika mereka mulai meninggalkan salat, kehilangan rasa malu untuk berbuat curang, atau tidak lagi peduli terhadap halal dan haram?

Jangan-jangan, kita terlalu sibuk menyiapkan anak agar sukses ketika kita masih hidup, tetapi lupa membekali mereka dengan iman dan akhlak ketika kita sudah tiada.

Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober seharusnya menggugah kesadaran ini. Para pemuda pada 1928 berani mengikrarkan persatuan demi masa depan Indonesia. Kini, pertanyaannya bukan hanya apakah pemuda siap meneruskan bangsa, melainkan juga apakah kita, sebagai orang tua, sudah sungguh-sungguh menyiapkan mereka?

Sumpah Pemuda: Jangan Hanya Mewariskan Bangsa

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa masa depan tidak lahir dari slogan, tetapi dari keberanian, persatuan, dan tanggung jawab. Namun, cita-cita besar bangsa tidak akan bertahan jika generasi penerus kehilangan integritas.

Kita membutuhkan pemuda yang cerdas, tetapi kecerdasan tanpa kejujuran dapat melahirkan kecurangan. Kita membutuhkan pemimpin muda yang berani, tetapi keberanian tanpa amanah dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan. Kita membutuhkan generasi yang menguasai teknologi, tetapi bukan generasi yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Kita mudah menyalahkan zaman, media sosial, dan pergaulan. Namun, pernahkah kita memeriksa diri sendiri? Berapa banyak waktu yang kita sediakan untuk mendengarkan anak? Seberapa sering kita berbicara tentang iman dan akhlak, bukan sekadar nilai rapor dan masa depan pekerjaan?


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
 

Orang Tua, Jangan Hanya Menjadi Pencari Nafkah

Mencari nafkah adalah tanggung jawab mulia. Namun, persoalan muncul ketika kesibukan bekerja menjadi alasan untuk menyerahkan hampir seluruh pendidikan karakter kepada sekolah, guru, atau lembaga pendidikan.

Anak membutuhkan biaya sekolah, tetapi juga perhatian. Mereka memerlukan fasilitas, tetapi juga keteladanan. Mereka membutuhkan nasihat, tetapi lebih membutuhkan contoh nyata tentang kejujuran, tanggung jawab, dan ibadah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).

Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada keberhasilan material anak. Ada amanah untuk membimbing keluarga agar mengenal Allah dan menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.

Baginda Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Anak bukan sekadar kebanggaan yang dipamerkan ketika berprestasi. Mereka adalah amanah. Karena itu, keberhasilan orang tua tidak cukup diukur dari gelar, jabatan, atau penghasilan anak.

Jangan Menuntut Akhlak yang Tidak Kita Teladankan

Inilah kritik yang mungkin tidak nyaman didengar: sebagian orang tua menuntut anak menjadi baik, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri. Anak diminta disiplin, sementara orang tua menormalisasi keterlambatan.

Anak dilarang bermain ponsel terlalu lama, sementara orang tua sibuk dengan layar ketika keluarga berkumpul. Anak diminta santun, tetapi orang tua mudah mencaci orang lain. Kita ingin anak berubah, tetapi apakah kita bersedia berubah bersama mereka?

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff [61]: 2–3).

Ayat ini memperingatkan kita tentang ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan. Dalam pendidikan keluarga, keteladanan bukan pelengkap nasihat, melainkan fondasi yang membuat nasihat memiliki kekuatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya: “Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (QS. Luqman [31]: 17).

Pendidikan dalam ayat ini mencakup ibadah, kepedulian sosial, keberanian membela kebaikan, dan kesabaran. Anak tidak cukup hanya dibekali kecerdasan akademik. Mereka perlu memiliki kompas moral agar mampu membedakan yang benar dari yang salah.


Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa masa depan tidak lahir dari slogan, tetapi dari keberanian, persatuan, dan tanggung jawab. (Foto: Ist)
 

Masa Tua Kita Sedang Dibentuk Hari Ini

Baginda Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadis riwayat Muslim bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya.

Hadis ini mengingatkan kita tentang berharganya pendidikan yang menumbuhkan iman dan kebaikan. Namun, kesalehan anak tidak hadir begitu saja. Ia perlu dibimbing melalui doa, kasih sayang, pendidikan, dan keteladanan, seraya menyadari bahwa setiap anak tetap memiliki pilihan serta tanggung jawabnya sendiri.

Maka, pada momentum Sumpah Pemuda, mari bercermin. Jangan hanya menuntut pemuda menyelamatkan masa depan bangsa jika kita enggan mengambil bagian dalam pembentukan karakter mereka.

Mulai hari ini, tanyakan kepada diri sendiri: kapan terakhir kali saya berbicara dari hati ke hati dengan anak? Apakah saya sudah menjadi teladan yang layak mereka ikuti? Kebiasaan apa di rumah yang perlu diperbaiki? Dan nilai apa yang akan tetap hidup dalam diri mereka ketika saya tidak lagi berada di sisi mereka?

Jangan hanya menyiapkan harta untuk diwariskan, tetapi abaikan nilai yang harus diteruskan. Jangan hanya menginginkan anak sukses ketika kita masih hidup, tetapi lupa membekali mereka agar tetap berada di jalan Allah ketika kita sudah tiada.

Menitipkan masa tua kepada para pemuda berarti menyiapkan generasi yang bukan hanya mampu meneruskan kehidupan, tetapi juga menjaga kebaikan yang kita perjuangkan.

Sumpah Pemuda mengajarkan kita mewariskan cita-cita kebangsaan. Islam mengingatkan kita agar mewariskan iman, akhlak, dan tanggung jawab. Sebab, pertanyaan terpenting bukan sekadar siapa yang akan menjaga kita ketika tua, melainkan generasi seperti apa yang akan kita tinggalkan ketika kita tidak lagi ada. (*)


Anak bukan sekadar kebanggaan yang dipamerkan ketika berprestasi. Mereka adalah amanah. (Foto: Ist)

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor: Syahrir Rasyid

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut