HIKMAH JUMAT : Ada Apa di Balik Darah Qurban?

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Qurban adalah ibadah hati. Ia bukan hanya ritual fisik, tetapi simbol kepatuhan total seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Foto: Ist)

Dan Nabi Ibrahim pun lulus dari ujian tersebut. Di situlah makna qurban yang sesungguhnya: ketika manusia rela melepaskan sesuatu yang dicintainya demi Allah.

Hari ini, mungkin Allah tidak meminta kita mengorbankan anak sebagaimana Nabi Ibrahim. Tetapi Allah meminta kita mengorbankan ego, kesombongan, hawa nafsu, dan kecintaan berlebihan kepada dunia.

Sebab sering kali yang paling sulit disembelih bukan hewan qurban, melainkan nafsu dalam diri sendiri. Di era modern ini, manusia hidup dalam budaya “memiliki”. Semua ingin dimiliki: harta, jabatan, popularitas, pengakuan, dan kesenangan dunia.

Banyak orang bekerja tanpa henti hingga melupakan ibadah. Banyak yang rela mengorbankan prinsip agama demi keuntungan sesaat. Bahkan tidak sedikit yang lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan iman.

Padahal Allah telah mengingatkan: “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92)

Ayat ini menunjukkan bahwa nilai pengorbanan terletak pada sesuatu yang dicintai. Karena itu qurban bukan hanya soal membeli hewan terbaik, tetapi tentang keberanian mengalahkan rasa cinta terhadap dunia demi meraih cinta Allah.

Sayangnya, di zaman media sosial seperti sekarang, ibadah qurban kadang bergeser menjadi ajang pencitraan. Dokumentasi hewan qurban diunggah demi pujian manusia. Ada yang lebih sibuk menghitung harga sapi daripada memperbaiki niat hati. Akibatnya, qurban kehilangan ruh spiritualnya.

Baginda Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amal tanpa keikhlasan tidak bernilai di sisi Allah. Beliau bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini seolah mengingatkan kita agar berhati-hati menjaga niat dalam berqurban. Jangan sampai ibadah yang mulia justru ternodai oleh riya dan keinginan dipuji.

Selain mengajarkan cinta kepada Allah, qurban juga mengajarkan kepedulian sosial. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan. Islam ingin membangun rasa empati dan persaudaraan. Bahwa kebahagiaan tidak boleh hanya dinikmati sendiri.

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, meningkatnya kemiskinan, dan mahalnya kebutuhan hidup, qurban menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang menghadirkan kasih sayang sosial. Ketika seseorang berqurban, ia sedang belajar bahwa sebagian hartanya ada hak orang lain di dalamnya.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang.” (HR. Tirmidzi)


Banyak orang bekerja tanpa henti hingga melupakan ibadah. Banyak yang rela mengorbankan prinsip agama demi keuntungan sesaat. (Foto/Illustrasi: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network