Qurban melatih manusia agar tidak menjadi pribadi yang egois. Sebab salah satu penyakit terbesar manusia modern adalah individualisme: sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan penderitaan orang lain.
Padahal ketakwaan sejati bukan hanya rajin beribadah secara pribadi, tetapi juga memiliki hati yang peduli kepada sesama. Maka qurban adalah kombinasi indah antara hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal kepada manusia.
Lebih jauh lagi, qurban mengajarkan bahwa setiap cinta pasti membutuhkan pengorbanan. Tidak ada cinta tanpa pengorbanan. Seorang ibu berkorban demi anaknya. Seorang ayah bekerja keras demi keluarganya. Bahkan dalam kehidupan dunia saja, manusia rela berkorban demi sesuatu yang dicintainya.
Lalu mengapa kita sering sulit berkorban untuk Allah?
Mengapa berat bangun shalat malam?
Mengapa sulit menyisihkan harta untuk sedekah?
Mengapa mudah mengejar dunia tetapi lalai mengejar akhirat?
Boleh jadi karena cinta kita kepada Allah masih lemah.
Padahal Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa puncak iman adalah ketika cinta kepada Allah mengalahkan cinta kepada apa pun. Dan itulah inti qurban.
Maka ketika darah hewan qurban mengalir di Hari Raya Idul Adha, sesungguhnya ada pesan besar yang sedang Allah sampaikan kepada manusia: bahwa hidup bukan hanya tentang mengambil, tetapi juga memberi; bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga melepaskan; bukan hanya tentang dunia, tetapi juga akhirat.
Qurban mengajarkan kita untuk mencintai Allah lebih dari segalanya. Mengajarkan kita untuk membersihkan hati dari keserakahan. Mengajarkan kita untuk peduli kepada sesama. Dan mengajarkan kita bahwa ketakwaan lahir dari pengorbanan.
Semoga Idul Adha tahun ini tidak hanya menghadirkan keramaian dan tradisi tahunan, tetapi benar-benar melahirkan hati yang lebih lembut, jiwa yang lebih ikhlas, dan cinta kepada Allah yang semakin kuat. Karena di balik darah qurban, sesungguhnya ada cinta dan ketakwaan. (*)
Di zaman media sosial seperti sekarang, ibadah qurban kadang bergeser menjadi ajang pencitraan. Dokumentasi hewan qurban diunggah demi pujian manusia. (Foto: Ist)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
