HIKMAH JUMAT : Allah Tidak Pernah Salah

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Keliru besar, kekayaan dianggap lebih mulia daripada kesederhanaan. Popularitas dipandang lebih bernilai daripada ketakwaan. (Foto: Ist)

Masalah muncul ketika manusia menganggap perbedaan sebagai ukuran kemuliaan. Kekayaan dianggap lebih mulia daripada kesederhanaan. Jabatan dianggap lebih tinggi daripada kejujuran. Popularitas dipandang lebih bernilai daripada ketakwaan.

Padahal, standar Allah sama sekali berbeda. Allah menilai takwa, bukan status. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Ayat ini meruntuhkan seluruh kesombongan manusia. Perbedaan suku, warna kulit, profesi, kekayaan, bahkan kedudukan bukanlah alasan untuk merasa lebih mulia. Semua hanyalah identitas dunia. Yang menjadi ukuran di sisi Allah hanyalah ketakwaan.

Baginda Rasulullah SAW juga bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan tidak pula harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim).

Betapa sering manusia sibuk mempercantik penampilan, menumpuk kekayaan, dan mengejar pengakuan, tetapi lupa memperbaiki hati. Padahal, yang dilihat Allah bukanlah apa yang dipamerkan di hadapan manusia, melainkan keikhlasan yang tersembunyi.

Bahaya Membandingkan Takdir

Budaya membandingkan diri menjadi penyakit di zaman ini. Media sosial sering membuat orang merasa hidupnya paling berat, rumahnya paling sederhana, pekerjaannya paling biasa, dan rezekinya paling sedikit.

Padahal, setiap orang sedang memikul ujian yang berbeda. Yang tampak bahagia belum tentu tenang. Yang terlihat kaya belum tentu bersyukur. Yang populer belum tentu dicintai Allah.

Karena itu Baginda Rasulullah SAW mengingatkan: "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini bukan mengajarkan kita berhenti berusaha menjadi lebih baik, melainkan menjaga hati agar tidak terperangkap dalam iri dan keluh kesah. Ambisi boleh tinggi, tetapi syukur tidak boleh hilang.


Jangan menyangka bahwa setiap keberhasilan adalah tanda kemuliaan, atau setiap kesulitan adalah tanda kebencian Allah. (Foto: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network