Menerima bahwa Allah tidak pernah salah bukan berarti menyerah pada keadaan. Islam justru memerintahkan ikhtiar terbaik. Seorang miskin tetap bekerja keras. Seorang pelajar tetap belajar. Seorang pemimpin tetap memperjuangkan keadilan.
Yang dilarang adalah menggugat ketentuan Allah setelah semua usaha dilakukan.
Seorang mukmin percaya bahwa hasil terbaik belum tentu yang paling ia inginkan, tetapi pasti yang paling Allah ketahui manfaatnya. Di sinilah letak keindahan iman: kita berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu ridha terhadap keputusan Allah.
Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Saatnya Berdamai dengan Takdir
Mungkin kita tidak dilahirkan dalam keluarga kaya. Mungkin wajah kita biasa saja. Mungkin karier kita tidak secepat orang lain. Mungkin rezeki datang lebih lambat daripada harapan.
Namun, semua itu bukan bukti bahwa Allah melupakan kita. Boleh jadi justru itulah jalan yang Allah pilih agar kita lebih dekat kepada-Nya, lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih layak menerima kemuliaan di akhirat.
Sebab kehidupan dunia hanyalah persinggahan, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya ada di sisi Allah. Maka berhentilah mengukur kasih sayang Allah dengan ukuran dunia.
Jangan menyangka bahwa setiap keberhasilan adalah tanda kemuliaan, atau setiap kesulitan adalah tanda kebencian Allah. Yang menentukan nilai seorang manusia bukan apa yang dimilikinya, melainkan bagaimana ia menjalani amanah yang diberikan kepadanya.
Pada akhirnya, persoalannya bukan mengapa hidup kita berbeda dari orang lain. Persoalan yang sesungguhnya adalah apakah kita mampu mensyukuri takdir yang Allah pilihkan.
Karena satu hal yang pasti: Allah tidak pernah salah. Yang sering keliru adalah cara manusia memahami rencana-Nya. Bersyukur dan bersabar, adalah menjadi sikap terbaik yang harus kita lakukan. (*)
Budaya membandingkan diri menjadi penyakit di zaman ini. Media sosial sering membuat orang merasa hidupnya paling berat. (Foto: Ist)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
