get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Manusia yang Merugi di Bulan Ramadhan  

HIKMAH JUMAT : Pulang

Jum'at, 28 Maret 2025 | 05:23 WIB
header img
Pulang kampung alias mudik sudah menjadi tradisi setiap menjelang Lebaran. (Foto: Ist)

Bukankah kita merasa senang ketika pasangan kita menyatakan bahwa kita adalah miliknya? Kita tidak boleh jauh darinya dan harus kembali padanya? Saya yakin, betapa senangnya kita, mendengar ucapan romantis seperti itu dari pasangan kita.

Kita merasa senang dengan sikap romantis pasangan kita karena kita memiliki perasaan yang sama dengan pasangan kita. Namun, mengapa ketika Allah Ta’ala berkata romantis melalui firman-Nya kita tidak merasakan apa-apa bahkan tidak dapat menangkap sikap romantisnya Allah kepada kita?

Mengapa ketika ditanya andaikan saat ini kita dipanggil pulang oleh Allah kita tidak merasa senang?

Mungkin ada yang setuju bahkan ada juga yang tidak setuju dengan kedua pertanyaan di atas.Jawabannya pun pasti akan beragam.

Terlepas dari setuju atau tidak terhadap kedua pertanyaan tersebut, sepertinya kita harus mendeteksi kadar cinta kita kepada Allah Ta’ala. Jangan-jangan, selama ini kita belum atau tidak memiliki rasa cinta kepada Allah, sehingga kita pun tidak merasakan cinta Allah yang begitu besar kepada kita.

Laksana ada seseorang yang jatuh cinta kepada kita. Dia telah melakukan berbagai macam cara untuk menarik perhatian dan menunjukkan rasa cintanya kepada kita. Tetapi karena kita tidak memiliki rasa yang sama dengan dia, maka kita pun acuh dan tidak mempedulikannya.

Kita tidak bergembira ketika akan pulang menghadap Allah, bahkan takut menghadapi kematian. Padahal Allah telah menyiapkan sebaik-baik tempat bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Bisa jadi, hal ini dikarenakan rasa cinta kita kepada selain Allah jauh lebih besar ketimbang rasa cinta kita kepada Allah.

Mari kita simak sabda Baginda Rasulullah SAW yang artinya: “Barangsiapa suka berjumpa dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” Ibunda Aisyah berkata: “Apakah yang dimaksud benci akan kematian, wahai Nabi Allah? Tentu kami semua takut akan kematian.” 

Nabi SAW lantas bersabda: “Bukan begitu maksudnya. Namun maksud yang benar, seorang mukmin jika diberi kabar gembira dengan rahmat, keridhaan serta surga-Nya, ia suka bertemu dengan Allah, maka Allah pun suka berjumpa dengannya. Sedangkan orang kafir, jika diberi kabar dengan siksa dan murka Allah, ia pun khawatir berjumpa dengan Allah, lantas Allah pun tidak suka berjumpa dengannya.” (HR. Muslim).

Takut terhadap kematian adalah hal yang wajar karena itu adalah sifat dan tabi’at setiap orang,dan itu tidaklah tercela. Namun ada takut terhadap kematian yang tercela yang disebabkan karena terlalu cinta kepada dunia dan tertipu oleh gemerlapnya dunia. Rasa takut seperti inilah yang disebut sebagai penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). (*)


Rasa lelah di perjalanan saat pulang kampung terbayar sudah ketika mereka telah berjumpa dengan orangtua. (Foto: Ist)

 

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut