get app
inews
Aa Text
Read Next : 10 Hari Terakhir Ramadhan, Ini Amalan agar Raih Lailatul Qadar

HIKMAH JUMAT : Bulan Sya’ban Bukan Bulan Makan-makan

Jum'at, 30 Januari 2026 | 05:01 WIB
header img
Di berbagai daerah khususnya di Jawa Barat, bulan Sya’ban identik dengan tradisi makan bersama atau munggahan menjelang Ramadhan. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

BULAN SYA’BAN adalah salah satu bulan yang sering kali terlewatkan maknanya oleh sebagian kaum muslimin. Di tengah masyarakat, Sya’ban kerap dipahami sebagai bulan “pemanasan” sebelum Ramadhan.

Pemahaman tersebut tidaklah salah. Namun, dalam praktiknya sering disalahartikan oleh sebagian umat Islam. Banyak yang beranggapan bulan Sya’ban sebagai bulan untuk memperbanyak makan, pesta, dan berbagai acara konsumtif lainnya.

Tidak jarang kita jumpai tradisi makan-makan besar, hajatan berlebihan, hingga gaya hidup boros dengan alasan “mumpung belum puasa”. Sehingga ketika bulan Sya’ban datang agenda kegiatan pun penuh dengan agenda “munggahan”.

“Munggahan” adalah tradisi di masyarakat yang biasanya diisi dengan makan-makan menjelang datangnya bulan Ramadhan. Selama tidak berlebihan, wajar-wajar saja, tidak ada salahnya dengan agenda “munggahan” itu.

Namun, agenda “munggahan” akan jadi masalah ketika kita sebagai umat Islam justru melupakan agenda amal ibadah yang sangat luar biasa yang sebaiknya kita lakukan di bulan Sya’ban. Jangan sampai Sya’ban berlalu tanpa amal berarti untuk Ramadhan.

Jika ditelaah dari perspektif Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, Sya’ban justru merupakan bulan ibadah, persiapan ruhiyah, dan peningkatan amal, bukan bulan makan-makan, bermewah-mewahan, dan cenderung menjadi sumber pemborosan.

Secara bahasa, Sya’ban berasal dari kata sya’aba yang berarti “berpencar” atau “tersebar”. Para ulama menjelaskan bahwa pada bulan ini, amal-amal manusia diangkat dan tersebar untuk dilaporkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini menunjukkan bahwa Sya’ban memiliki kedudukan penting dalam siklus ibadah tahunan seorang muslim. Oleh karenanya, Baginda Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus terhadap bulan Sya’ban.

Bahkan, ibadah beliau di bulan ini terlihat lebih intens dibandingkan bulan-bulan lainnya, kecuali Ramadhan. Hal ini menjadi isyarat kuat bahwa Sya’ban adalah bulan persiapan spiritual, bukan bulan untuk menuruti hawa nafsu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah takwa, dan Sya’ban adalah jembatan penting untuk mempersiapkan diri menuju tujuan tersebut.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : Dok Pribadi)

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut