get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Menghentikan Kelalaian

HIKMAH JUMAT : Ketika Musibah Datang: Dimanakah Hati Kita Berlabuh?

Jum'at, 26 Juni 2026 | 07:06 WIB
header img
Bagi seorang mukmin, musibah bukan sekadar peristiwa yang menyakitkan. Ia adalah ujian keimanan, sarana penghapus dosa, sekaligus jalan menuju kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

TIDAK ADA seorang pun yang mengundang musibah datang ke dalam hidupnya. Semua orang mendambakan kesehatan, ketenangan, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang baik, dan kehidupan yang bahagia.

Namun, kenyataan hidup sering kali berjalan di luar harapan. Dalam hitungan detik, kabar duka bisa datang. Seseorang yang kita cintai berpulang. Usaha yang dibangun bertahun-tahun runtuh. Bencana alam meluluhlantakkan rumah. Penyakit menggerogoti tubuh yang selama ini tampak sehat.

Bagi seorang mukmin, musibah bukan sekadar peristiwa yang menyakitkan. Ia adalah ujian keimanan, sarana penghapus dosa, sekaligus jalan menuju kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Musibah Adalah Kepastian Hidup

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia memang dipenuhi dengan ujian. Tidak ada seorang pun yang akan lolos darinya. Allah berfirman:

"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Ayat ini menunjukkan bahwa ujian bukan kemungkinan, melainkan kepastian. Perbedaannya hanya terletak pada bentuknya. Ada yang diuji dengan kehilangan. Ada yang diuji dengan kemiskinan. Ada yang diuji dengan penyakit. Ada pula yang diuji justru dengan kelimpahan harta, jabatan, dan popularitas. Semuanya adalah ujian.

Tidak Ada Musibah yang Terjadi Tanpa Izin Allah

Ketika musibah datang, sering kali manusia bertanya mengapa Allah membiarkan semua itu terjadi. Padahal Allah telah menegaskan: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid [57]: 22)

Ayat ini bukan untuk membuat manusia pasrah tanpa ikhtiar, tetapi agar hati tidak hancur oleh penyesalan yang berkepanjangan. Apa yang sudah Allah tetapkan tidak akan pernah meleset. Dan apa yang luput dari kita memang tidak pernah ditakdirkan menjadi milik kita.

Ketika musibah datang, Islam mengajarkan satu kalimat yang sangat agung, yakni: "Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali." (QS. Al-Baqarah [2]: 156)

Kalimat istirja' ini bukan sekadar ucapan belasungkawa. Ia adalah deklarasi keimanan. Bahwa hidup ini bukan milik kita. Anak bukan milik kita. Harta bukan milik kita. Jabatan bukan milik kita. Bahkan tubuh yang kita gunakan setiap hari pun hanyalah titipan Allah. Maka ketika Sang Pemilik mengambil kembali titipan-Nya, seorang mukmin belajar untuk menerima dengan hati yang ridha.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 

Musibah Menghapus Dosa

Salah satu kabar gembira terbesar disampaikan oleh Baginda Rasulullah SAW: "Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa luas kasih sayang Allah. Tangisan seorang mukmin tidak hanya didengar. Ia juga menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Rasa sakit yang membuat kita sulit tidur, kesedihan yang membebani dada, bahkan luka kecil sekalipun, semuanya bernilai ibadah apabila dihadapi dengan sabar dan penuh harap kepada Allah.

Ketahuilah bahwa Allah lebih mengetahui kemampuan hamba-Nya dibandingkan dirinya sendiri. Allah berfirman: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Artinya, jika ujian itu sampai kepada kita, berarti Allah mengetahui bahwa kita mampu melewatinya. Boleh jadi kita belum melihat kekuatan itu hari ini. Tetapi Allah telah menyiapkannya di dalam diri kita.

Baginda Rasulullah Pun Tidak Lepas dari Musibah

Jangan pernah mengira bahwa menjadi orang saleh berarti hidup tanpa ujian. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling mulia, tetapi beliau juga manusia yang paling banyak diuji.

Beliau menjadi yatim sebelum lahir. Ibunya wafat ketika beliau masih kecil. Kakek dan pamannya meninggal. Diusir dari kampung halaman. Dilempari batu hingga berdarah. Difitnah. Diboikot. Anak-anak beliau wafat satu demi satu. Istri tercinta, Khadijah R.A., meninggal dunia.

Namun tidak pernah sekali pun beliau menyalahkan Allah. Beliau justru berdoa dengan penuh ketundukan. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka." (HR. at-Tirmidzi)

Musibah seharusnya mendekatkan, bukan menjauhkan. Karena hanya Allah yang mampu mengubah kesedihan menjadi ketenangan. Hanya Allah yang mampu mengganti kehilangan dengan keberkahan. Dan hanya Allah yang mampu menyembuhkan luka yang tidak terlihat oleh manusia.

Allah berfirman: "...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Sering kali hikmah baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Ada musibah yang ternyata menyelamatkan seseorang dari dosa. Ada kegagalan yang mengantarkan kepada kesuksesan yang lebih besar. Ada kehilangan yang membuat seseorang menemukan Allah.


Ketika musibah datang, sering kali manusia bertanya mengapa Allah membiarkan semua itu terjadi. (Foto: Ist)
 

Musibah memang menyakitkan. Islam tidak pernah melarang kita menangis. Bahkan Baginda Rasulullah SAW pun menangis ketika kehilangan putranya, Ibrahim. Namun beliau bersabda:

"Sesungguhnya mata boleh menangis dan hati boleh bersedih, tetapi kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kami." (HR. Bukhari)

Inilah keseimbangan dalam Islam. Bersedih adalah fitrah, tetapi berputus asa bukanlah ajaran seorang mukmin.

Ketika musibah datang, jangan biarkan hati hanyut dalam keluh kesah. Jadikan setiap ujian sebagai jalan untuk semakin mengenal Allah, memperbanyak doa, memperkuat sabar, dan memperteguh tawakal. Sebab Allah telah memberikan janji yang menenangkan hati setiap orang beriman:

"Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6)

Perhatikan, Allah mengulang janji ini dua kali. Ini menunjukkan bahwa tidak ada kesulitan yang berlangsung selamanya. Di balik setiap air mata, ada rahmat yang sedang disiapkan. Di balik setiap kehilangan, ada pelajaran yang sedang membentuk jiwa.

Dan di balik setiap musibah yang diterima dengan sabar, insya Allah tersimpan pahala yang kelak akan membuat seorang mukmin berkata pada hari kiamat, "Andai dulu ujianku di dunia lebih berat lagi."

Semoga setiap musibah yang menimpa kita menjadi jalan penghapus dosa, pengangkat derajat, dan penguat iman, hingga akhirnya mengantarkan kita kepada perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan hati yang tenang dan diridhai-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin. (*)


Musibah seharusnya mendekatkan, bukan menjauhkan. Karena hanya Allah yang mampu mengubah kesedihan menjadi ketenangan. (Foto/Ilustrasi: Ist)
 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut