HIKMAH JUMAT : Mari Mengisi Kemerdekaan dengan Serius
Islam sangat keras terhadap pengkhianatan amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa [4]: 58)
Baginda Rasulullah SAW juga bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para pejuang dahulu mungkin tidak pernah membayangkan bahwa setelah penjajah pergi, bangsa ini masih harus menghadapi manusia-manusia yang tega memperkaya diri dengan mengambil hak rakyat. Mereka telah mengkhianati kemerdekaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil...” (QS. Al-Baqarah [2]: 188)
Korupsi bukan sekadar persoalan hukum. Ia adalah persoalan iman. Orang yang yakin bahwa setiap rupiah yang diambil secara haram akan dimintai pertanggungjawaban tentu akan berpikir berkali-kali sebelum melakukan korupsi.
Masalahnya, ketika rasa takut kepada Allah melemah, hukum bisa dicari celahnya. Ketika integritas hilang, jabatan bisa menjadi alat transaksi. Bangsa ini membutuhkan revolusi integritas. Bukan sekadar pergantian pejabat.
Namun jangan terlalu cepat menunjuk pejabat. Sebab penyakit bangsa tidak hanya berada di gedung pemerintahan. Ia juga berada di dalam diri kita. Kita mungkin tidak pernah mengambil uang negara, tetapi apakah kita tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan hak kita?
Kita mungkin tidak memiliki jabatan, tetapi apakah kita tidak pernah menyalahgunakan kepercayaan? Kita mungkin tidak melakukan korupsi miliaran rupiah, tetapi apakah kita tidak pernah memanipulasi laporan, mengurangi timbangan, berbohong dalam pekerjaan, atau menggunakan fasilitas yang bukan hak kita?
Korupsi besar sering bermula dari pembenaran kecil. Karena itu, kemerdekaan sejati harus dimulai dari kemerdekaan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9–10)
Inilah medan perjuangan yang sering kita lupakan. Kita berhasil mengusir penjajah dari tanah air, tetapi belum tentu berhasil mengusir keserakahan dari hati. Kita berhasil membangun gedung-gedung tinggi, tetapi belum tentu berhasil membangun karakter manusia.

Editor : Syahrir Rasyid