get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Allah Tidak Pernah Salah

HIKMAH JUMAT : Mari Mengisi Kemerdekaan dengan Serius

Jum'at, 14 Agustus 2026 | 05:01 WIB
header img
Peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum muhasabah nasional. Jangan sampai merah putih berkibar tinggi, tetapi kejujuran justru semakin rendah. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

HARI ULANG TAHUN (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-81 tinggal beberapa hari lagi. Gegap gempita kemeriahan HUT RI ke-81 sudah kita rasakan sejak awal Agustus yang lalu.

Kita memang patut merayakan kemerdekaan. Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin terasa mengganggu: Indonesia sudah merdeka, tetapi apakah manusianya sudah merdeka?

Jangan-jangan kita terlalu sibuk merayakan kemerdekaan dari penjajah masa lalu, sementara diam-diam menjadi budak dari penjajah baru: uang, jabatan, kekuasaan, popularitas, gaya hidup, dan hawa nafsu.

Merdeka Secara Politik, Terjajah Secara Moral

Pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Penjajahan fisik berakhir. Kita memiliki negara sendiri, pemerintahan sendiri, hukum sendiri, dan hak menentukan masa depan sendiri.

Tetapi kemerdekaan politik tidak otomatis melahirkan kemerdekaan moral. Apa artinya sebuah bangsa merdeka jika korupsi masih menggerogoti uang rakyat? Apa arti kebebasan jika manusia justru diperbudak oleh konsumerisme, keserakahan, dan pencitraan?

Transparency International Indonesia (TII) melaporkan skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia untuk 2025 turun menjadi 34, dengan posisi Indonesia berada di peringkat 109 dari 182 negara. TII menyebut penurunan ini sebagai alarm keras bagi integritas sektor publik dan tata kelola pemerintahan. Angka itu bukan sekadar angka.

Di baliknya ada pertanyaan moral: mengapa bangsa yang dahulu rela mengorbankan nyawa untuk kemerdekaan justru masih harus berjuang melawan keserakahan orang-orang yang diberi amanah mengelola negara?

Penjajahan dahulu datang dengan kapal, tentara, senjata, dan kekerasan. Penjajahan hari ini bisa datang dengan jas, dasi, proposal, stempel, tanda tangan, bahkan keputusan yang terlihat sah secara administratif tetapi merugikan kepentingan rakyat.

Korupsi adalah salah satu bentuk penjajahan modern. Ketika uang rakyat dikorupsi, yang dirampas bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Yang dirampas adalah hak anak miskin untuk mendapatkan pendidikan, hak masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan, hak rakyat mendapatkan infrastruktur yang layak, dan hak generasi mendatang menikmati sumber daya negara.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
 

Islam sangat keras terhadap pengkhianatan amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa [4]: 58)

Baginda Rasulullah SAW juga bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para pejuang dahulu mungkin tidak pernah membayangkan bahwa setelah penjajah pergi, bangsa ini masih harus menghadapi manusia-manusia yang tega memperkaya diri dengan mengambil hak rakyat. Mereka telah mengkhianati kemerdekaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil...” (QS. Al-Baqarah [2]: 188)

Korupsi bukan sekadar persoalan hukum. Ia adalah persoalan iman. Orang yang yakin bahwa setiap rupiah yang diambil secara haram akan dimintai pertanggungjawaban tentu akan berpikir berkali-kali sebelum melakukan korupsi.

Masalahnya, ketika rasa takut kepada Allah melemah, hukum bisa dicari celahnya. Ketika integritas hilang, jabatan bisa menjadi alat transaksi. Bangsa ini membutuhkan revolusi integritas. Bukan sekadar pergantian pejabat.

Kita Juga Harus Merdeka dari Hawa Nafsu

Namun jangan terlalu cepat menunjuk pejabat. Sebab penyakit bangsa tidak hanya berada di gedung pemerintahan. Ia juga berada di dalam diri kita. Kita mungkin tidak pernah mengambil uang negara, tetapi apakah kita tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan hak kita?

Kita mungkin tidak memiliki jabatan, tetapi apakah kita tidak pernah menyalahgunakan kepercayaan? Kita mungkin tidak melakukan korupsi miliaran rupiah, tetapi apakah kita tidak pernah memanipulasi laporan, mengurangi timbangan, berbohong dalam pekerjaan, atau menggunakan fasilitas yang bukan hak kita?

Korupsi besar sering bermula dari pembenaran kecil. Karena itu, kemerdekaan sejati harus dimulai dari kemerdekaan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9–10)

Inilah medan perjuangan yang sering kita lupakan. Kita berhasil mengusir penjajah dari tanah air, tetapi belum tentu berhasil mengusir keserakahan dari hati. Kita berhasil membangun gedung-gedung tinggi, tetapi belum tentu berhasil membangun karakter manusia. 


Kemerdekaan politik tidak otomatis melahirkan kemerdekaan moral. Apa artinya sebuah bangsa merdeka jika korupsi masih menggerogoti uang rakyat? (Foto: Ist)
 

Kemerdekaan dalam Islam: Hanya Tunduk kepada Allah

Islam menawarkan konsep kemerdekaan yang sangat mendasar: manusia tidak boleh menjadi hamba bagi selain Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Menjadi hamba Allah justru merupakan kemerdekaan tertinggi. Sebab ketika seseorang benar-benar menjadi hamba Allah, ia tidak akan mudah menjadi budak uang. Ia tidak akan menjual harga dirinya demi jabatan. Ia tidak akan menggadaikan prinsip demi popularitas. Ia tidak akan takut kepada manusia ketika harus mengatakan kebenaran. Ia hanya takut kepada Allah.

Inilah manusia merdeka. Bukan manusia yang bebas melakukan apa saja, tetapi manusia yang bebas dari segala sesuatu yang memperbudaknya dan tunduk kepada Allah Yang Maha Esa.

Maka, peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum muhasabah nasional. Jangan sampai merah putih berkibar tinggi, tetapi kejujuran justru semakin rendah. Jangan sampai kita menyanyikan lagu perjuangan dengan suara lantang, tetapi diam ketika melihat ketidakadilan.

Bebaskan negeri ini dari korupsi. Bebaskan birokrasi dari pungutan dan penyalahgunaan kekuasaan. Bebaskan politik dari keserakahan, dan yang paling penting: bebaskan diri kita dari penjajahan hawa nafsu. Sebab bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang merdeka.

Indonesia Merdeka, Kita Harus Merdeka

Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah amanah. Karena itu, setiap kali bendera merah putih dikibarkan, seharusnya ada pertanyaan yang ikut berkibar di dalam hati: Sudahkah saya menjadi manusia yang merdeka?

Merdeka dari korupsi. Merdeka dari keserakahan. Merdeka dari kebencian. Merdeka dari kesombongan. Merdeka dari ketakutan kepada manusia. Merdeka dari kecanduan dunia, dan merdeka dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah.

Baginda Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kekuatan manusia bukan diukur dari kemampuan menaklukkan orang lain. Beliau bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Indonesia memang telah merdeka, tetapi perjuangan belum selesai. Kini musuh kita bukan lagi tentara asing yang datang membawa senjata. Musuh kita bisa berupa keserakahan yang bersembunyi di balik jabatan, kebohongan yang berlindung di balik kepentingan, dan hawa nafsu yang menyamar sebagai kebebasan. (*)


Korupsi adalah salah satu bentuk penjajahan modern. Ketika uang rakyat dikorupsi, yang dirampas bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. (Foto: Ist)

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut